ILMU ALAMIAH DASAR
DALAM
KONTEKS PEMBAHASAN
PROSES KEJADIAN ALAM SEMESTA DALAM
SUDUT PANDANG PERSPEKTIF SAINS DAN ISLAM
Dosen Pengampu :
Ria
Wenny Asriani, S.Sos

Disusun oleh :
-
Ryan Maulana
-
Radiyanto
-
Nuraini
-
Uswatun Hasanah
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ADAB SASTRA DAN KEBUDAYAAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah Swt. yang
telah memberikan banyak nikmatnya kepada kami. Sehingga kami mampu menyelesaikan Makalah Ilmu Alamiah Dasar yang berjudul “Proses Kejadian Alam Semesta dari sudut pandang Sains dan Islam”
sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan. Makalah ini kami buat dalam rangka
memenuhi salah satu syarat penilaian mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar. Yang
meliputi nilai tugas, nilai kelompok, nilai individu, dan nilai keaktifan.
Kami sebagai penyusun pastinya tidak pernah lepas dari kesalahan.
Begitu pula dalam penyusunan makalah ini, yang mempunyai banyak kekurangan. Oleh
karena itu, kami mohon untuk sebuah
kritikan yang membangun atas
makalah kami.
Kami ucapkan terima kasih kepada ibu Ria
Wenni asriani, S.Sos sebagai dosen pengampu mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar yang telah membimbing kami dalam penyusunan
makalah ini. Tidak pula kepada rekan - rekan yang telah ikut berpartisipasi.
Sehingga makalah ini selesai tepat pada waktunya. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi penulis maupun bagi para
pembaca. Terima kasih.
Jambi,
April 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Masalah ....................................................................................................... 1
BAB II........................................................................................................................... PEMBAHASAN 2
2.1 Teori-Teori Pembentukan Alam Semesta ................................................................ 2
2.2 Pembentukan Alam Semesta Dalam
Perspektif Sains ............................................ 3
2.3 Pembentukan Alam Semesta Dalam
Perspektif Al-Qur’an .................................... 5
BAB III ......................................................................................................................... PENUTUP 9
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................... .. 9
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ . iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perjalanan pembentukan alam raya ini, munculnya manusia dimuka
bumi secara nisbi masih sangant baru. Oleh sebab itu kita tidak boleh heran
bahwa sejak zaman purbakala hingga sekarang manusia dari berbagai peradaban
mencoba menemukan teori terbentuknya bumi sesuai dengan tingkat pengembangn
ilmu pengetahuan dan pemikirannya.
Perkembangan
citra manusia mengenai alam raya ini seringkali terikat sangat erat pada
pengetahuan apriori yang diturunkan kepadanya melalui otoritas. Hal ini
menyebabkan bahwa pandangan tentang alam raya sulit diuji kebenarannya melalui
pengalaman.
Allah
SWT. Menurunkan Al-Quran kepada manusia 14 abad yang lalu. Beberapa fakta yang
baru dapat diungkap dengan teknologi pada abad ke-21, yang telah difirmankan
Allah SWT. didalam Al-Quran. Didalam Al-Quran terdapat banyak bukti yang
memberikan informasi dasar mengenai beberapa hal seperti penciptaan alam
semesta. Kenyataan bahwa didalam Al-Quran tersebut telah sesuai dengan penemuan
terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal terpenting, karena kesesuaian ini
menegaskan bahwa Al-Quran adalah Firman Allah SWT.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa saja
teori-teori pembentukan alam semesta?
b. Bagaimana
pembentukan alam semesta dalam perspektif sains?
c.
Bagaimana pembentukan alam semesta dalam perspektif Al-Qur’an?
1.3 Tujuan Masalah
a. Mengetahui teori-teori
pembentukan alam semesta
b. Mengetahui
pembentukan alam semesta dalam perspektif sains
c. Mengetahui
pembentukan alam semesta dalam perspektif Al-Qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Teori-Teori Pembentukan Alam Semesta
A. Teori Kabut
Teori kabut dikemukakan oleh dua orang
ilmuan yaitu Imanuel Kant (1724-1804) seorang ahli filsafat
bangsa Jerman dan Piere Simon Laplace (1749-1827) ahli astronomi
bangsa Perancis. Kant mengemukakan teorinya tahun 1755, sedangkan Laplace
mengemukakan tahun 1796 dengan nama Nebular Hypothesis.
Pada akhir abad ke-19 teori kabut
disanggah oleh beberapa ahli seperti James Clark Maxwell yang memeberikan
kesimpulan bahwa bila bahan pembentuk planet terdistribusi disekitar matahari
membentuk suatu cakram atau suatu piringan, maka gaya yang disebabkan oleh
perbedaan perputaran (kecepatan anguler) akan mencegah terjadinya pembekuan
planet. Pada abad ke-20 percobaan dilakukan untuk membuktikan terbentuknya
cincin-cincin Laplace, menunjukkan bahwa medan magnet dan medan listrik
matahari tekah merusak proses pembekuan batu-batuan. Jadi tidak ada alasan yang
kuat un tuk menyatakan bahwa cincin gas dapat membeku membantuk planet.
B. Teori
Planetisimal
Teori
planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain
dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal
mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang
hampir menabrak matahari.
C. Teori Pasang
Surut Bintang
Teori pasang
surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold
Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip
dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya
matahari.
D. Teori
Kondensasi
Teori
kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P.
Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan
bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk
cakram raksasa.
E. Teori
Bintang Kembar
Menurut teori bintang kembar, awalnya
ada dua buah bintang yang berdekatan (bintang kembar), salah satu bintang
tersebut meledak dan berkeping-keping. Akibat pengaruh grafitasi dari bintang
kedua, maka kepingan-kepingan itu bergerak mengelilingi bintang tersebut dan
berubah menjadi planet-planet. Sedangkan bintang yang tidak meledak adalah
matahari.
F. Teori
Ledakan Maha Dahsyat (Big Bang)
Pada awal abad
ke-21 muncul teori ledakan maha dahsyat Big Bang, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15
milyar tahun yang lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil
dari ledakan satu titik tunggal. Pada awalnya alam semesta ini berupa satu
massa maha padat. Massa maha padat ini dapat dianggap suatu atom maha padat
dengan ukuran maha kecil yang kemudian mengalami reaksi radioaktif dan akhirnya
menghasilkan ledakan maha dahsyat.
2.2 Pembentukan
Alam Semesta Dalam Perspektif Sains
Pemahaman manusia tentang alam semesta
mempergunakan seluruh pengetahuan di bumi, berbagai prinsip-prinsip,
kepercayaan umum dalam sains (seperti ketidakpastian Heisenberg tentang
pengukuran simultan dimensi ruang dan waktu), serta berbagai aturan untuk
keperluan praktis. Melalui sebuah kerangka besar gagasan yang menghubungkan
berbagai fenomena (teori relativitas umum, teori kinetik materi, teori
relativitas khusus) coba dikemukakan satu penjelasan. Berbagai hipotesa,
gagasan awal atau tentatif dikemukakan untuk menjelaskan fenomena. Tentu
gagasan tersebut masih perlu diuji kebenarannya untuk dapat dikatakan sebuah
hukum.
Dunia fisika
membahas konsep energi, hukum konservasi, konsep gerak gelombang, dan konsep
medan. Pembahasan Mekanika pun sangat luas, dari Mekanika klasik ke Mekanika
Kuantum Relativistik. Mekanika Kuantum Relativistik mengakomodasi pemecahan
persoalan mekanika semua benda, Mekanika kuantum melayani persoalan mekanika
untuk semua massa yang kecepatannya kurang dari kecepatan cahaya. Mekanika
Relativistik memecahkan persoalan mekanika massa yang lebih besar dari 10-27
kg dan bagi semua kecepatan. Mekanika Newton (disebut juga mekanika klasik)
menjelaskan fenomena benda yang relatif besar, dengan kecepatan relatif rendah,
tapi juga bisa dipergunakan sebagai pendekatan fenomena benda mikroskopik.
Mekanika
statistik (kuantum klasik) adalah suatu teknik statistik untuk interaksi benda
dalam jumlah besar untuk menjelaskan fenomena yang besar, teori kinetik dan
termodinamik. Dalam penjelajahan akal manusia di dunia elektromagnet dikenal
persamaan Maxwell untuk mendeskripsikan kelakuan medan elektromagnet, juga
teori tentang hubungan cahaya dan elektromagnet.
Dalam
pembahasan interaksi partikel, ada prinsip larangan Pauli, interaksi gravitasi,
dan interaksi elektromagnet. Medan menyebabkan gaya; medan-gravitasi
menyebabkan gaya gravitasi, medan-listrik menyebabkan gaya listrik dan
sebagainya. Demikianlah, metode sains mencoba dengan lebih cermat menerangkan
realitas alam semesta yang berisi banyak sekali benda langit (dan lebih banyak
lagi yang belum ditemukan).
Pengetahuan
tentang luas alam semesta dibatasi oleh keberadaan objek berdaya besar, seperti
Quasar atau inti galaksi, sebagai penuntun tepi alam semesta yang bisa diamati;
selain itu juga dibatasi oleh kecepatan cahaya dan usia alam semesta (15 miliar
tahun). Itulah sebabnya ruang alam semesta yang pernah diamati manusia
berdimensi 15-20 miliar tahun cahaya. Namun, banyak benda langit yang tak
memancarkan cahaya dan tak bisa dideteksi keberadaannya, protoplanet misalnya.
Menurut taksiran, sekitar 90% objek di alam semesta belum atau tak akan
terdeteksi secara langsung. Keberadaannya objek gelap ini diyakini karena
secara dinamika mengganggu orbit objek-objek yang teramati, lewat gravitasi.
Berbicara
tentang daya objek, dalam kehidupan sehari-hari ada lampu penerangan berdaya 10
watt, 75 watt dan sebagainya; sedangkan Matahari berdaya 1026 watt
dan berjarak satu sa* dari Bumi, menghangatinya. Jika kita lihat, lampu-lampu
kota dengan daya lebih besarlah yang tampak terang. Menurut hukum cahaya, terang
lampu akan melemah sebanding dengan jarak kuadrat, jadi sebuah lampu pada jarak
1 meter tampak 4 kali lebih terang dibandingkan pada jarak 2 meter, dan apabila
dilihat pada jarak 5 meter tampak 25 kali lebih redup.
Maka, kemampuan
mata manusia mengamati bintang lemah terbatas. Ukuran kolektor cahaya juga akan
membatasi skala terang objek yang bisa diamati. Untuk pengamatan objek langit
yang lebih lemah dipergunakan kolektor atau teleskop yang lebih besar. Teleskop
yang besar pun mempunyai keterbatasan dalam mengamati obyek langit yang lemah,
walaupun berhasil mendeteksi obyek langit yang berjuta atau bermiliar kali
lebih lemah dari bintang terlemah yang bisa dideteksi manusia.
Makin jauh
jarak galaksi, berarti pengamatan kita juga merupakan pengamatan masa silam
galaksi tersebut. Cahaya merupakan fosil informasi pembentukan alam semesta
yang berguna, dan manusia berupaya menangkapnya untuk mengetahui prosesnya
hingga takdir di masa depan yang sangat jauh, yang akan dilalui melalui
hukum-hukum alam ciptaan-Nya. Pengetahuan kita tentang hal tersebut sangat
bergantung pada pengetahuan kita tentang hukum alam ciptaan-Nya; sudah lengkap
dan sudah sempurnakah, ataukah baru sebagian kecil, sehingga mungkin bisa
membentuk ekstrapolasi persepsi yang salah.
2.3 Pembentukan Alam Semesta Dalam
Perspektif Al-Qur’an
Allah SWT. Menurunkan Al-Quran kepada manusia 14 abad yang lalu. Beberapa
fakta yang baru dapat diungkap dengan teknologi pada abad ke-21, yang telah
difirmankan Allah SWT. didalam Al-Quran 14 abad yang lalu. Didalam Al-Quran
terdapat banyak bukti yang memberikan informasi dasar mengenai beberapa hal
seperti penciptaan alam semesta. Kenyataan bahwa didalam Al-Quran tersebut
telah sesuai dengan penemuan terbaru ilmu pengetahuan modern adalah hal
terpenting, karena kesesuaian ini menegaskan bahwa Al-Quran adalah Firma Allah
SWT.
Dalam Al-Quran
surat Fush-shilat (41:11) yang Artinya: “Kemudian Dia menuju kepada
penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata
kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku
dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang
dengan suka hati".
Kata asap dalam
tersebut menurut para ahli tafsir adalh merupakan kumpulan dari gas-gas dan
pertikel-partikel halus baik dalam bentuk padat maupun cair pada temperatur
yang tinggi maupun rendah dalam suatu campuran yang lebih atau kurang stabil.
Salah satu
teori mengenai terciptanya alam semesta (teori Big bang) disebutkan bahwa alam
semesta tercipta dari suatu ledakan kosmis sekitar 10-20 milyar tahun yang lalu
mengakibatkan adanya ekspansi (pengembangan) alam semesta. Sebelum terjadinya
ledakan kosmis tersebut, seluruh ruang materi dan energi terkumpul dalam bentuk
titik.
Didalam Al-Quran dijelaskan tentang
terbentuknya alam ini (QS Al-Anbiya : 30) yang Artinya: “Dan Apakah
orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya
dahulu adalah suatu yang padu (sebingkah penuh), kemudian Kami pisahkan antara
keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah
mereka tiada juga beriman”.
Berdasarkan
terjemahan dan tafsir Bachtiar Surin (1978:692) ditafsirkannya bahwa matahari
adalah benda angkasa yang menyala-nyala yang telah berputar mengeliligi
sumbunya sejak berjuta-juta tahun. Dalam peroses perputarannya denagn kecepatan
tinggi itu, maka terlontarlah bingkahan-bingkahan yang akhirnya menjadi bumi
dan beberapa benda angkasa lainnya dari bingkahan matahari itu. Masing-masing
bingkah beredar menurut garis tengah lingkaran matahari, semakin lama semakin
bertambah jauh, hingga masing-masing menempati garis edarnya. Dan seterusnya
akan tetap beredar dengan teratur sampai batas waktu yang hanya diketahui oleh
Allah SWT.
Kemudian dalam surat Adz-Dzaariyaat
(51:47) yang Artinya: “Dan langit, denag kekuasaan Kami, Kami bangun dan
Kami akan memuaikannya selebar-lebarnya”.
Teori ledakan
maha dahsyat juga mengatakan adanya pemuaian alam semesta secara terus-menerus
denagn kecepatan maha dahsyat yang diumpamakan mengembangnya permukaan balon
yang sedang ditiup yang mengisyaratkan bahwa galaksi akan hancur kembali.
Isyarat ini sudah dijelaskan dalam surat Al-Anbiya’ (21:104) yang Artinya:
“(yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran
kertas. sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan
mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah
yang akan melaksanakannya”.
- Dalam surat
Ath-Tholaq (65:12) yang Artinya: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit
dan seperti itu pula bumi. perintah Allah Berlaku padanya, agar kamu mengetahui
bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah
ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa ruang angkasa terdiri dari 7 lapis.
- Didalam surat
As-Sajada (32:4) yang Artinya: “Allah lah yang menciptakan langit dan
bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia
bersemayam di atas 'Arsy[1188]. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang
penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at[1189]. Maka Apakah kamu
tidak memperhatikan”.
[1188] Bersemayam di
atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan
kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
[1189] Syafa'at: usaha perantaraan dalam
memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat
bagi orang lain. syafa'at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at
bagi orang-orang kafir.
Uraian penciptaan langit dan bumi dan apa-apa yang ada
diantara keduanya, terdapat
-
Di
dalam surat Fush-Shilat ayat 9, 10 dan 12 yang Artinya: “Katakanlah:
"Sesungguhnya Patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua
masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah
Rabb semesta alam".
-
Artinya: “Dan Dia menciptakan di
bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia
menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa”. (Penjelasan itu
sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
-
Artinya: “Maka Dia menjadikannya
tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.
dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa
lagi Maha mengetahui”.
Dengan
perincian penafsirannya sebagai berikut
:
1. Tahap pertama
penciptaan bumi 2 rangakain waktu.
2. Tahap kedua
penyempurnaan bumi 2 rangkaian waktu.
3. Tahap ketiga penciptaan angkasa raya
dan planet-planetnya 2 rangkaian waktu.
Jadi terbentuknya alam raya ini terjadi dalam 6 rangkaian
waktu atau 6 masa. Selain surat-surat tersebut diatas masih banyak lagi yang
menjelaskan tentang terbentuknya alam raya ini, namun dari yang telah kami
sampaikan dalam ringkasan ini terlihat
bahwa secara umum proses terciptanya
alam raya ini berlangsung dalam 6 masa, dimana tahapan-tahapan dalam proses tersebut saling berkaitan. Disebutkan
juga bahwa terciptanya alam raya ini
terjadi melalui proses pemisahan massa
yang tadinya satu.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan
tentang perkembangan pemikiran tentang terbentuknya alam raya, yang diungkapkan
melalui pendapat / pemikiran dari berbagai peradaban, teori-teori yang
dikemukakan dari beberapa ilmuan serta dari pandangan Islam berdasarkan
Al-Quran, maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan tentang pemikiran tentang
terbentuknya alam semesta sudah sejak lama telah menjadi bagian pemikiran
manusia, begitu juga pendapat-pendapat dari berbagai peradaban, begitu banyak
teori-teori yang muncul tentang terbentuknya alam raya ini.
Dari sekian
banyak teori-teori yang dikemukakan oleh para ilmuan ternyata ilmuan modern
menyetujui bahwa Teori Ledakan Maha Dahsyat (Teori Big Bang) merupakan
satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula
alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada. Namun perlu kita
sadari bahwa jauh sebelum para ahli mengemukakan teori Big Bang, ayat-ayat
Al-Quran telah secara jelas menceritakan bagaimana alam semesta ini terbentuk
dalam 6 masa.
Demikian,
sebagai umat muslim yang berpegang teguh kepada Al Qur’an maka hendaklah kita
menjaga, merawat, dan melestarikan alam ciptaan Allah ini. Semoga Allah SWT.
melimpahkan rahmat-Nya untuk kita semua, Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Trianto. 2007. Wawasan
Ilmu Alamiah Dasar Prespektif Islam dan Barat. Jakarta: Prestasi Pustaka
Baiquni, Ahmad.
1997. Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman. Yogyakarta: PT. Dana
Bhakti Primayasa
Mawardi, Nur
Hidayat. 2000. Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu
Sosial Dasar, Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: CV Pustaka Setia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar