Kamis, 18 Desember 2014

ibnu sina


MAKALAH
FILSAFAT ISLAM
“ Ibnu sina “
Dosen pengampuh: Halimah Djafar, S.Ag., M.Fil.I




Disusun oleh :
Nuraini
Wahyu kurniawan
Dede nurdiansyah

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
IAIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI

TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ””.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat islam, dan untuk menjadi bahan diskusi kelompok, penullis berharap mekalah inidapat membantu dalam proses pembelajaran pada matakuliah filsafat islam. 
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Wassalamua’laikum wr.wb.


Jambi, Desember 2014

penulis






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................................ ii
BAB I  PENDAHULUAN
A. Latar belakang......................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah.................................................................................................... 1
C. Tujuan...................................................................................................................... 1
BAB II  PEMBAHASAN
A. Biogarfi ibnu sina.................................................................................................... 2
B. karya-karya ibnu sina............................................................................................... 4
C. Filsafat ibnu sina...................................................................................................... 5
BAB III  PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 8

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar belakang
Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.
Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.
Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan demikian; “Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.” Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.
  1. Rumusan masalah
1.    Bagaimana biografi ibnu sina ?
2.    Apa saja karya-karya ibnu sina ?
3.    Bagaiman filsafat ibnu sina ?
  1. Tujuan
1.      Untuk mengetahuai biografi ibnu sina
2.      Untuk mengetahui karya-karya ibnu sina
3.      Untuk mengetahui filsafat ibnu sina  
BAB II
PEMBAHASAN

  1. Biografi Ibnu sina
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Di Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya. Dari mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Euclid dan Al-Magest-Ptolemus. Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator - komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab.
Dengan ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang - cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870 - 950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi.
Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Belum lagi usianya melebihi enam belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan teori - teori kedokteran, tetapi juga melakukan praktek dan mengobati orang - orang sakit. Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku - buku filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan untuk diberinya petunjuk, dan ternyata permohonannya itu tidak  pernah dikecewakan. Sering - sering ia tertidur karena kepayahan membaca, maka didalam tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap kesulitan - kesulitan yang dihadapinya.
Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan buku - buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu. Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua duanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb-nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis.
Dalam bidang materia medeica, Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga - dimana tumbuh - tumbuhan banayak membantu terhadap bebebrapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak (miningitis).
Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama  masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya.
Dia jugalah yang mula - mula mempraktekkan pembedahan penyakit - penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Dan last but not list dia juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa dengan cara - cara modern yang kini disebut psikoterapi.
Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of Islam-nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan - peperangan yang meraja lela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas.
Selain kepandaiannya sebagai flosof dan dokter, iapun penyair. Ilmu - ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia ada yang ditulisnya dalam bentuk syair. Begitu pula didapati buku - buku yang dikarangnya untuk ilmu logika dengan syair.
Kebanyakan buku - bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Ketika orang - orang Eropa diabad tengah, mulai mempergunakan buku - buku itu sebagai textbook, diberbagai universitas. Oleh karena itu nama Ibnu Sina dalam abad pertengahan di Eropah sangat berpengaruh.
Dalam dunia Islam kitab - kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan ilmunya, akan tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Buku - bukunya dalam bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam tahun 1954.
Karya - karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al Isyarat. An-Najat adalah resum dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat, dikarangkannya kemudian, untuk ilmu tasawuf. Selain dari pada itu, ia banyak menulis karangan - karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis ketika ia memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera dikarangnya.
Sekalipun ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering sibuk dengan soal negara, ia menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang paling masyhur adalah “Qanun”  yang  merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini dterjemahkan ke baasa Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universita Barat. Karya keduanya adalah ensiklopedinya yang monumental “Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam. 

  1. Karya-karya Ibnu sina
Diantara karangan - karangan Ibnu Sina adalah :
1. As- Syifa’ ( The Book of Recovery or The Book of Remedy = Buku tentang Penemuan,   atau Buku tentang Penyembuhan).
Buku ini dikenal didalam bahasa Latin dengan nama Sanatio, atau Sufficienta. Seluruh buku ini terdiri atas 18 jilid, naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan di Oxford University London. Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M) dan berakhir pada tahun wafatnya (1037 M). Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu :
Ø  Logika (termasuk didalamnya terorika dan syair) meliputi dasar karangan Aristoteles tentang logika dengan dimasukkan segala materi dari penulis - penulis Yunani kemudiannya.
Ø  Fisika (termasuk psichologi, pertanian, dan hewan). Bagian - bagian Fisika meliputi kosmologi, meteorologi, udara, waktu, kekosongan dan gambaran).
Ø  Matematika. Bagian matematika mengandung pandangan yang berpusat dari elemen - elemen Euclid, garis besar dari Almagest-nya Ptolemy, dan ikhtisar - ikhtisar tentang aritmetika dan ilmu musik.
Ø  Metafisika. Bagian falsafah, poko pikiran Ibnu sina menggabungkan pendapat Aristoteles dengan elemen - elemennya Neo Platonic dan menyusun dasar percobaan untuk menyesuaikan ide-ide Yunani dengan kepercayaan - kepercayaan.
2.  Nafat, buku ini adalah ringkasan dari buku As-Syifa’.
3.  Qanun, buku ini adalah buku lmu kedokteran, dijadikan buku pokok pada Universitas  Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia).
4.  Sadidiyya. Buku ilmu kedokteran.
5.  Al-Musiqa. Buku tentang musik, dll.

  1. Filsafat Ibnu sina
  1.  Filsafat Jiwa
Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku - buku yang khusus untuk soal - soal kejiwaan ataupun buku - buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.
.           Segi - segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi yaitu :
Ø  Segi fisika yang membicarakan tentang macam - macamnya jiwa (jiwa tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan - kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain - lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam pengertian ilmu jiwa yang sebenarnya.
Ø  Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa.
  1. Filsafat Wujud.
Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas segala sifat lain, walaupun essensi sendiri. Essensi, dalam faham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud, essensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari essensi. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu menimbulkan falsafat wujudiah atau existentialisasi dari filosof - filosof lain.
Kalau dikombinasikan, essensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :
Ø  Essensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina mumtani yaitu sesuatu yang mustahil berwujud.
Ø   Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut mumkin yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
Ø   Essensi yang tak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Disini essensi tidak bisa dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu. Di sini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud, sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama - lamanya. Yang serupa ini disebut mesti berwujud yaitu Tuhan. Wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud.

Dalam pembagian wujud kepada wajib  dan mumkin, tampaknya Ibnu Sina terpengaruh oleh pembagian wujud para mutakallimun kepada : baharu (al-hadits) dan Qadim (al-Qadim). Karena dalil mereka tentang wujud Allah didasarkan pada pembedaan - pembedaan “baharu” dan “qadim” sehingga mengharuskan orang berkata, setiap orang yang ada selain Allah adalah baharu, yakni didahului oleh zaman dimana Allah tidak berbuat apa - apa. Pendirian ini mengakibatkan lumpuhnya kemurahan Allah pada zaman yang mendahului alam mahluk ini, sehingga Allah tidak pemurah pada satu waktu dan Maha Pemurah pada waktu lain. Dengan kata lain perbuatan-Nya tidak Qadim dan tidak mesti wajib.
  1. Filsafat Wahyu dan Nabi
Pentingnya gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, “imajinatif”, keajaiban, dan sosio politis. Totalitas keempat tingkatan ini memberi kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran keagamaan.
Akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal  intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil. Ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu Sina diberi namaal hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi - nabi.
Jadi wahyu dalam pengertian teknis inilah yang mendorong manusia untuk beramal dan menjadi orang baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham belaka. Maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal murni. Namun demikian, wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai kualitas potensi yang diperlukan, juga tak pelak lagi menderita karena dalam kenyataannya wahyu tersebut tidak memberikan kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam selubung simbol – simbol.
 Namun sejauh mana wahyu itu mendorong ?. Kecuali kalau nabi dapat menyatakan wawasan moralnya ke dalam tujuan – tujuan dan prinsip – prinsip moral yang memadai, dan sebenarnya ke dalam suatu struktur sosial politik, baik wawasan maupun kekuatan wahyu imajinatifnya tak akan banyak berfaedah. Maka dari itu, nabi perlu menjadi seorang pembuat hukum dan seorang negarawan tertinggi – memang hanya nabilah pembuat hukum dan negarawan yang sebenarnya.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Di Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam.
Ibnu Sina memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya. Ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan keagamaannya mewarnai alam pikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat, sementara al-Ghazali menjulukinya sebagai Filsuf yang terlalu banyak berfikir.
Ada tiga konsep filsafat ibnu sina yaitu:
1.      Filsafat jiwa.
2.      Filsafat wujud.
3.      Falsafah wahyu dan nabi.












DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Hasyimsah, Filsafat Islam, Cet. Ke-3, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002

Syarif, M.M. History of Muslim Philosophy, vol. I, Wisbaden: Otto Horossowitz, 1963

Zar, Sirajuddin,  Filsafat Islam filosof dan filsafatnya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

http://nurulwatoni.tripod.com/FILSAFAT_IBNU_SINA.htm



evaluasi sumber tercetak dan elektronik

MAKALAH
KOMUNIKASI DAN SUMBER INFORMASI
Evaluasi sumber informasi tercetak dan elektronik
Dosen Pengampu :
M. Rizal Pahlefi, S.IP., M.IP.


Kelas : IPT 3C
Disusun oleh kelompok 9 :
Nuraini
M. Zainuddin
Rozalia

PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI

TAHUN 2014/2015

KATA PENGANTAR



Assalamualaikum wr.wb.

Puji syukur penulis panjatkan kepada allah SWT. Yang telah memberikan penulis nikmat sehat, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Dan penulis ucapkan terima kasih kepada dosen pengampuh mata kuliah Komunikasi dan sumber informasi yaitu M. Rizal Pahlefi,S.IP.,M.IP. yang telah memberikan saya kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini penulis buat untuk memenuhi tugas mata kuliah, sekaligus menjadi bahan untuk diskusi kelompok, penulis berharap semoga makalah ini dapat membantu dalam peroses perkuliahan. 
Penulis sadar dalam pembuatan makalah ini bnyak terdapat kekurangan di sana sini. dari itu penulis mohon kritik dan saranya dari teman-teman dan dosen pengampuh mata kuliah komunikasi dan sumber informasi, guna untuk perbaikan makalah penulis selanjutnya.

Wassalamualikum wr.wb.



  Jambi,   Desember 2014


Penulis











DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR........................................................................................................ i

DAFTAR ISI........................................................................................................................ ii

BAB   I    PENDAHULUAN

A. Latar belakang...................................................................................................... 1

B. Rumusan masalah.................................................................................................. 1

C. Tujuan................................................................................................................... 2

BAB  II  PEMBAHASAN

A. Sumber informasi.................................................................................................. 3

B. Mengevaliasi sumber informasi............................................................................. 4

C. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi sumber tercetak ................ 7

D. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi sumber dari internet.......... 8
E. Kriteria dalam melakukan evaluasi........................................................................ 8
F. Hambatan dalam mengevaluasi sumber................................................................. 9

BAB  III PENUTUP

            Kesimpulan................................................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 11



BABI
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pada saat ini membawa dampak bagi pesatnya perkembangan informasi yang beredar di dunia. Hal ini didukung oleh pesatnya perkembangan pemanfaatan internet sebagai media dimana saat ini berbagai informasi dapat ditemukan di internet. Perkembangan pengguna internet sendiri mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Perpustakaan sebagai lembaga yang menjadi pusat informasi mau tidak mau harus dapat menghadapi kenyataan ‘banjir’ informasi di era yang kita kenal sebagai era informasi ini. Jutaan dan bahkan milyaran informasi yang ada harus mampu dikelola dan dimanfaatkan dengan baik.  Namun disisi lain, pengguna juga harus pintar dalam memilah dan menemukan informasi yang berada dalam belantara yang seolah tidak bertepi. Berbagai isu terkait bagaimana menemukan informasi yang tepat menjadi isu penting pada masa sekarang ini. Pengguna harus mempunyai strategi jitu untuk menemukan informasi yang diinginkan dan sesuai dengan kebutuhan serta mampu dipertanggungjawabkan secara kualitas. Hal ini disebabkan tidak semua informasi yang ada dapat diambil sebagai informasi yang’berguna’ atau ‘valid’.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan sumber informasi ?
2.      Bagaiman cara mengevaluasi sumber informasi ?
3.      Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi sumber tercetak ?
4.      Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi sumber dari internet ?


C.    Tujuan

1.      Mengetahui apa yang dimaksud sumber informasi.
2.      Mengetahui cara mengevaluasi sumber informasi.
3.      Mengetahui hal-hal yang perlu di perhatikan dalam mengevaluasi sumber tercetak.
4.      Mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi sumber  dari internet.

























BAB II
PEMBAHASAN

A.     Sumber informasi
Dalam dunia akademis, jenis informasi primer bergantung pada disiplin keilmuan yang diimani seseorang. Misalnya sebuah artikel di majalah yang melaporkan pengurangan konsumsi energi dengan menggunakan lampu neon compact, dapat digolongkan pada sumber sekunder, sedangkan artikel riset tentang neon jenis ini adalah sumber primer. Namun jika kita mengkaji bagaimana lampu neon disajikan di media populer, artikel itu dianggap sebagai sumber primer.
Dengan kata lain, sumber primer itu orisinil, tanpa disaring, ditafsir atau dievaluasi terlebih dahulu. Sumber ini selalu muncul sebagai dokumen tercetak atau elektronik, berisi pemikiran orisinal, laporan tentang penemuan, atau informasi baru. Batasan ini bergantung pada disiplin ilmu atau konteksnya. Beberapa contoh diantaranya, akte kelahiran, surat nikah, artefak seperti uang logam, spesimen tanaman, fosil, lukisan, patung, surat, dll.
Sumber sekunder lebih sulit diidentifikasi dibanding sumber primer. Sumber ini menyediakan informasi yang diproses dengan bahan sumber primer. Dengan kata lain sumber versi tangan kedua. Pada umumnya sumber ini berupa laporan tertulis setelah adanya fakta dan manfaatnya, berupa tafsiran dari sumber primer, misalnya sumber sekonder berupa buku  akutansi yang memuat faktur yang diterima, pernyatan bank tentang rinci cek yang dibayarkan. Sumber sekonder bukanlah bukti, melainkan komentar dan diskusi tentang bukti. Ketika informasi statistik dikumpulkan, seperti dalam survey, data survei adalah sumber primer dan kesimpulan survey merupakan sumber sekonder.
Namun, informasi yang telah didifinisikan sumber sekonder, orang lain menganggapnya sebagai sumber tersier. Sekali lagi, bergantung konteks. Contohnya adalah bibliografi (juga dianggap sebagai sumber tersier), karya biografi, komentar, atau kritik. Kamus dan ensiklopedia juga dianggap tersier. Sumber tersier berisi informasi hasil pemampatan dan pengumpulan sumber primer dan sekonder. Misalnya Almanak, bibliografi, direktori, buku panduan, indeks abstrak, buku ajar, dsb. Sumber-sumber tersebut di atas perlu kita lihat untuk merumuskan sebuah pertanyaan riset dalam karya tulis ilmiah.

B.     Mengevaluasi sumber informasi
Dalam hal ini konten informasi pada umumnya berasal dari bahan yang diterbitkan, data dari lembaga riset dan pelayanan statistik pemerintah, juga dari informasi elektornik yang diperoleh dari pelayanan online, memainkan peran penting dalam penyusunan kemas ulang informasi. Untuk mempersiapkannya dokumen-dokumen yang relevan dengan topik dikumpulkan untuk dianalisis dan disintesakan, kemudian dikemas dalam media penyampaian yang tepat. Tidak jarang kita  mengunduh informasi berbasis Web yang menyesatkan, meskipun telah  membacanya.  Karena begitu cepat dan banyaknya informasi yang kita dapatkan, banyak informasi relevan terlewatkan begitu saja, sementara temuan yang kita kita peroleh belum tentu dapat dipercaya. Tentunya para anggota komunitas keilmuan itu memahami disiplin ilmu yang diimaninya, dan tidak bergitu saja sumber informasi yang diperolehnya.
Mereka mengevaluasi sumber informasi berbasis web untuk menditeksi informasi yang menyesatkan. Karenanya,  kita perlu mengembangkan ketrampilan mengevaluasi informasi yang kita dapatkan ketika menelusur di perpustakaan, walaupun buku, jurnal dan sumber lain yang telah dievaluasi oleh ilmuwan, penerbit, dan pustakawan. Setiap sumber yang kita dapatkan telah dievaluasi sebelum kita melihatnya. Menurut  Fitzgerald (1999), mengevaluasi informasi adalah menilai kualitas gagasan, dan erat kaitannya dengan pemikiran kritis yang mengkaji literatur tentang pemikiran kritis memberikan kontribusi cukup penting untuk pemahaman sifat evaluasi.
 Banyak perpustakaan menyelenggarakan kursus singkat literasi informasi yang mencakup evaluasi terhadap temuan penelusuran bagi para mahasiswa kita bisa melihat di situs universitas seperti Online Research Education di Universitas Purdue (http://core.lib.purdue.edu/;  Cornel University Library (2008), Beck, Susan E. (1997) dan bererapa diantaranya Boswel (1996) memberikan parameter untuk mengukur apakah sebuah dokumen di Web itu naik untuk disitir atau tidak dan dan tolok ukur itu antara lain seperti dibawah ini:

1.      Kepengarangan
Barang kali kepengarangan merupakan kriteria paling penting untuk mengevaluasi informasi. Karena terlalu banyak informasi yang tersaji, banyak pula informasi muncul dengan penulis anonim. Untuk terbitan tercetak  secara jelas menunjukkan si penulis, organisasi afiliasinya seperti lembaga atau universitas, dan waktu penerbitannya. Sementara, sumber dari internet kepengarangan dan afiliasi sulit ditentukan. Memang beberapa situs web kemungkinan mempunyai sponsor yang dicantumkan, tetapi banyak juga yang tidak.
Sahih berarti benar dan tepat dan kesahihan merupakan unsur penting dalam menilai informasi. Menilai unsur ini lebih sulit dibanding menilai kepengarangan, jika kita tidak mempunyai pemahaman cukup terhadap topik, dan sulit mengatakan bahwa informasi tersebut sahih. Namun kita  bisa melihat bebarapa hal seperti informasi bebas salah ketik, kemudian bagaimana penggunaan sitiran dalam naskah yang kita dapatkan. Penulis menjelaskan metoda-metoda yang digunakan, dan mencantumkan sumber referensi yang digunakan. Kita juga bisa melihat penafsiran dan implikasi yang disajikan  cukup rasional. Kita pastikan jika dalam naskah itu disajikan bukti-bukti yang mendukung kesimpulan dan dapat dilihat kembali. Kesahihan dapat juga dinilai dengan membandingkan informasi dengan sumber-sumber lain, apakah selaras ataukah bertentangan.
2.      Objektivitas
Objektivitas berarti semua unsur persoalan digambarkan secara adil, tanpa adanya propaganda atau kelalaian yang menyesatkan, meskipun hal yang satu ini tidak mudah diditeksi, jika kita tidak menguasai topik. Untuk melihat objektivitas sebuah dokumen kita perlu melihat tujuan penulisan, atau keinginan penulis untuk tujuan-tujuan subjektif atau untuk mempropagandakan produk atau pelayanan tertentu.  Bisa saja informasi itu membujuk kita tentang kebenaran pendapat tentang suatu masalah yang kontroversial. Organisasi yang menerbitkannya juga berpotensi bias (berat sebelah), jika organisasi tersebut mempunyai kepentingan komersial, ideologis, atau politik.
Kepentingan tersebut, dapat berdampak pada penyajian  dokumen, misalnya hanya menampilkan bukti-bukti yang mendukung pernyataannya saja.  Dalam sebuah artikel pembahasan yang berat sebelah itu bisa saja dituliskan secara tersirat dan ini perlu kita cermati. Bisa saja tulisan itu berupa fakta, opini, lelucon atau tulisan bernada sinis, dan hal-hal ini dapat mempengaruhi objektivitas sebuah informasi.
3.      Kemutakhiran
Sebuah artikel dapat dianggap mutakhir jika informasi yang dikandungnya terkini dan masih sahih. Jika tulisan itu berupa teori, belum ada teori baru yang menggugurkannya. Aspek waktu penerbitan sebuah dokumen penting untuk bidang-bidang yang berkembang cepat, contohnya sains dan kedokteran. Oleh karena itu seorang peneliti kesehatan perlu mengikuti informasi terbaru dalam bidangnya. Mungkin dalam beberapa bulan terdapat perkembangan obat dan perlakuan yang muncul.. Dalam mengukur kemutakhiran kita juga bisa melihat tanggal terakhir sebuah situs Web itu diperbarui dan taut yang disajikannya masih berfungsi. Perlu juga memastikan bahwa dokumen yang kita dapatkan adalah edisi terakhir. Sehingga dalam kita perlu menyimak lebih dalam waktu dokumen itu dibuat, dipasang di web, waktu mendapatkan hak cipta. Untuk melihatnya, biasana penerbit menenpatkan pada footer.
4.      Ruang lingkup
Ruang lingkup berarti kelengkapan informasi yang disajikan, dan sulit untuk menentukan tanpa memahami topik secara seseluruhan. Mungkin  ruang lingkup dokumen tersebut relevan, akan tetapi ditujukan untuk umum, atau untuk anak. Ruang lingkup topik sangat dipengaruhi oleh pembaca sasaran. Sebagai contoh, informasi  untuk profesional kesehatan akan menyajikan ruang lingkup yang lebih luas dibanding informasi untuk pengguna jasa kesehatan. Ruang lingkup termasuk kedalaman (tingkat rincian) dan keluasan (kelengkapan) informasi yang disajikan. Untuk menilai ruang lingkup hendaknya kita mencari adanya kesenjangan atau kelalian yang jelas dalam ruang lingkup topik, apakah ada pertanyaan yang belum terjawab dalam informasi itu. Ada baiknya jika kita membandingkan informasi yang disajikan itu dengan publikasi tercetak dengan topik yang sama, sehingga kita mengetahui jika mempunyai kedalaman dan keluasan yang sama. Perihal penting yang perlu dipertmbangkan adalah kelengkapan dan keunikan informasi yang disajikan.
            Dalam suasana ledakan publikasi atau ledakan makalah elektronik yang tidak jumlah, sekaligus  tidak lagi mempertimbangkan pemanfaatannya bagi informee. Dalam keadaan seperti ini, para pustakawan akan menghadapi kesulitan untuk menyusun kemas ulang informasi atas permintaan pemustaka mereka. Oleh karena itu ketrampilan untuk menemukan informasi paling relevan dan mengavaluasi sangat dibutuhkan. Pustakawan perlu menyaring informasi yang akan bermanfaat pengguna. Jika pengguna adalah para  manager yang tidak mempunyai banyak waktu untuk mengumpulkan informasi, menganalisis, dan menafsirkan informasi yang mereka perlukan untuk menjalankan roda perusahaan. Oleh karena itu banyak perusahaan mempekerjakan pustakawan yang mampu informasi yang dimanfaatkan untuk menjawab pesoalan-persoalan perusahaan tempat mereka bekerja.
            Lain halnya jika pengguna yang dilayani pustakawan adalah para peneliti atau akademisi tentunya bentuk produk kemas ulang informasi tentu akan berbeda, dengan para manager. Di samping itu, karena masing-masing kelompok pemustaka mempunyai kebutuhan dan tingkat kedalaman informasi. Untuk itu  kita perlu menentukan sumber informasi yang bisa kita berikan pada mereka, termasuk lokasi informasi.

C.    Hal-hal yang perlu diprerhatikan untuk mengevaluasi sumber tercetak

1.      Penulis adalah orang yang bertanggung jawab terhadap buku dan namanya muncul pada halaman judul.
2.      Judul-judul sering kali sangat deskriptif dan memberitahu kita sedikit tentang buku.
3.      Volume dalam sejumlah buku, masing-masing mempunyai nomor volume atau huruf.
4.      Edisi .
5.      Serial-serial adalah sejumlah karya terpisah yang terkait satu sama lain dan diterbitkan berurutan.  
6.      Tempat terbit selalu muncul pada halaman judul, tapi kadang-kadang dibalik halaman judul.
7.      Nama penerbit selalu terdapat di halaman judul.
8.      Waktu terbit terdapat pada halaman judul, atau dibalik halaman judul.
9.      Kata pengatar disini penulis menyatakan tujuan penulisan buku dan ucapan terima kasih kepada mereka yang membantu dalam penulisan.
10.  Pendahuluan adalah bagian yang terpenting dari buku karena kita butuhkan untuk memahami buku itu.
11.  Daftar isi, pada bagian ini memberikan daftar bab atau bagia buku.
12.  Naskah ini merupakan batang tubuh buku.
13.  Appendix atau lampiran
14.  Glosari adalah daftar istilah teknis dan tidak umum dengan defenisi atau penjelasan, serta selalu berada di belakang buku.
15.  Indeks adalah merupakan daftar topik, nama, tempat, dll yang disusun menurut abjad, dengan merujuk pada halaman atau nomor dimana mereka berada. 



D.    Hal-hal yang perlu diprerhatikan untuk mengevaluasi sumber dari internet

1.      Apakah yang tersirat dari URL? Apakah tertulis .edu, .org, atau .gov,ataukah situs pribadi yang ditandai dengan (~).
2.      Scan perimeter halaman, mencari taut ke tentang, latar belakang dll.
3.      Cari lah up-date terakhir.
4.      Carilah indikator kualitas, yaitu informasi yang bertanggung jawab atas isi dari halaman dan merupakan sumber didokumentasikan.
5.      Apakah taut yang dipilih dengan baik dan terorganisir.
6.      Lihat apa yang orang lan katakana! Lihatlah halaman dalam direktori terkemuka yang mengevaluasi isinya.

Kandungan informasinya haruslah unuk dan tidak dipunyai oleh situs lain, atau lebih lengkap. Dengan kata lain harus memerikan informasiyang signifikan pada subjek. Dalam hal ini pustakawan haruslah memahami ruang lingkup dan keterbatasan sumber itu sebelum menautnya. Beberapa situs mempunyai tujuan tertentu, tidak sekedar memberikan informasi, bisa saja untuk memasarkan produk atau ideology si empunya situs. Tentu saja taut ke situs semacam ini tidak banyak bermanfaat bagi perpustakaan. Situs yang dipilih harus ditulis secara jelas dengan bahasa nonteknis dan tidak rancu. Grafik, suara dan video perlu diperbaharui, namun jangan terlalu banyak karena kemungkinan akan memperlambat respon. Informasinya harus objektif, kepengarangan harus dilihat untuk memastikan siapa yang membuat situs itu dan apakah pengarang dapat dipercaya. Ini merupakan indikasi bahwa situs web itu dapat dipercaya.

E.     Kriteria dalam melakukan evaluasi
Secara umum, kriteria dalam melakukan evaluasi dibagi ke dalam 3 bagian utama. Informasi lengkap akan tertulis di masing-masing jenis evaluasi. Pada sumber tercetak dan non tercetak memiliki beberapa kesamaan dalam hal mengevaluasi satu karya.

1.      Kepengarangan (Authorship), mengecek kredibilitas dari dari pengarang atau organisasi dari karya yang akan dibaca.
2.      Kesesuaian (Relevance), kesesuaian dibutuhkan untuk mengetahui tingkat relevansi dengan topik yang akan ditulis. Meskipun informasi memiliki kualitas sangat baik tetapi tidak relevan dengan rencana tulisan yang akan dibuat tetap tidak dikategorikan relevan.

3.      Kekinian (Currency), kekinian sangat dibutuhkan untuk lebih mengetahui perkembangan satu ilmu. Ini penting karena dengan melihat kekinian maka satu ilmu akan diketahui seberapa jauh tingkat perkembangannnya.

F.     Hambatan dalam mengevaluasi sumber informasi

1.      Keterbatasan dari segi fisik
2.      Kurangnya pengetahauan tentang bagaiman mengevaluasi sumber informasi
3.      Kurangnya tenaga pustakawan yang memiliki kemampuan mengevaluasi sumber  
4.      Kurangnya fasilitas untuk mengevaluasi sumber
5.      Banjirnya informasi yang tidak relevan dengan kebutuhan
6.      Kuragnya strategi penelusuran informasi
7.      Kurangnya  pengetahuan tentang pembuatan kata kunci


        










BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam dunia akademis, jenis informasi primer bergantung pada disiplin keilmuan yang diimani seseorang. Misalnya sebuah artikel di majalah yang melaporkan pengurangan konsumsi energi dengan menggunakan lampu neon compact, dapat digolongkan pada sumber sekunder, sedangkan artikel riset tentang neon jenis ini adalah sumber primer. Namun jika kita mengkaji bagaimana lampu neon disajikan di media populer, artikel itu dianggap sebagai sumber primer. Sumber tersier berisi informasi hasil pemampatan dan pengumpulan sumber primer dan sekonder. Misalnya Almanak, bibliografi, direktori, buku panduan, indeks abstrak, buku ajar, dsb. Sumber-sumber tersebut di atas perlu kita lihat untuk merumuskan sebuah pertanyaan riset dalam karya tulis ilmiah.
Research Education di Universitas Purdue (http://core.lib.purdue.edu/;  Cornel University Library (2008), Beck, Susan E. (1997) dan bererapa diantaranya Boswel (1996) memberikan parameter untuk mengukur apakah sebuah dokumen di Web itu naik untuk disitir atau tidak dan dan tolok ukur itu antara lain seperti dibawah ini:
1.      Kepengarangan.
2.      Objektifitas.
3.      Kemutahiran.
4.      Ruang lingkup.
Kriteria dalam melakukan eveluasi yaitu : kepengarangan, kesesuaian, dan kekinian. Dan hambatan dalam meng evaluasi sumber adalah keterbatasan dari segi fisik, kurangnya pengetahuan tentang mengevaluasi sumber informasi, kurangnya pustakawan yang berkualitas dll.






DAFTAR PUSTAKA

Widyawan, rosa. 2012. Pelayanan referensi berawal dari senyuman, Sumedang: Bahtera ilmu
Cangara, hafied. 2013. Perencanaan & strategi komunikasi, Jakarta : Rajawali pers.  
Sulistyo-Basuki. 1992. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yusuf, Pawit M. 1988. Pedoman mencari sumber informasi. Bandung: Remadja Karya