MAKALAH
FILSAFAT
ISLAM
“
Ibnu sina “
Dosen
pengampuh: Halimah Djafar, S.Ag., M.Fil.I
Disusun
oleh :
Nuraini
Wahyu
kurniawan
Dede
nurdiansyah
JURUSAN
ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS
ADAB DAN HUMANIORA
IAIN
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI
TAHUN
AJARAN 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillahirabbilalamin,
banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala
puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat,
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah dengan judul ””.
Dalam
penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena
itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang
tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, kasih,
dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah
yang lebih baik lagi.
Makalah
ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah filsafat islam, dan
untuk menjadi bahan diskusi kelompok, penullis berharap mekalah inidapat
membantu dalam proses pembelajaran pada matakuliah filsafat islam.
Meskipun
penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,
namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Wassalamua’laikum
wr.wb.
Jambi,
Desember 2014
penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR
ISI........................................................................................................................ ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang......................................................................................................... 1
B.
Rumusan masalah.................................................................................................... 1
C.
Tujuan...................................................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Biogarfi ibnu sina.................................................................................................... 2
B.
karya-karya ibnu sina............................................................................................... 4
C.
Filsafat ibnu sina...................................................................................................... 5
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................................... 7
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................................... 8
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar
belakang
Syeikhur
Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal
dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah
desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang
berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan
ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi
membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar
Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba
ilmu.
Dengan
demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas
keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih
berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi
terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366
hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan
mengobatinya.
Berkat
itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar.
Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan demikian; “Semua buku yang aku
inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang
bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya
dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca
kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku
menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.” Ibnu
Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan
berbagai cabangnya.
- Rumusan masalah
1.
Bagaimana biografi ibnu sina ?
2.
Apa saja karya-karya ibnu sina ?
3.
Bagaiman filsafat ibnu sina ?
- Tujuan
1.
Untuk mengetahuai biografi ibnu sina
2.
Untuk mengetahui karya-karya ibnu sina
3.
Untuk mengetahui filsafat ibnu sina
BAB
II
PEMBAHASAN
- Biografi
Ibnu sina
Nama
lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada
tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah
pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman. Di Bukhara ia dibesarkan serta
belajar falsafah kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh
tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an
seluruhnya. Dari mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan
mengenai ilmu logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Euclid dan Al-Magest-Ptolemus.
Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama
dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator -
komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan
kedalam bahasa Arab.
Dengan
ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang - cabangnya,
kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian
otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami
ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru
setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho-nya
Al-Farabi (870 - 950 M), semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang
terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu
metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia
dari Al-Farabi.
Sesudah
itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Belum
lagi usianya melebihi enam belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran
sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya.
Ia tidak cukup dengan teori - teori kedokteran, tetapi juga melakukan praktek
dan mengobati orang - orang sakit. Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam
membaca buku - buku filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia
memohon kepada Tuhan untuk diberinya petunjuk, dan ternyata permohonannya itu
tidak pernah dikecewakan. Sering - sering ia tertidur karena
kepayahan membaca, maka didalam tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap
kesulitan - kesulitan yang dihadapinya.
Sewaktu
berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana
pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya.
Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi
perpustakaan yang penuh dengan buku - buku yang sukar didapat, kemudian
dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut
terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja
membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan
itu. Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua duanya
sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun
fit-Thibb-nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab
ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis.
Dalam
bidang materia medeica, Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati
baru Zanthoxyllum budrunga - dimana tumbuh - tumbuhan banayak
membantu terhadap bebebrapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak
(miningitis).
Ibnu
Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana
enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang
pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan
mengambil makanannya lewat tali pusarnya.
Dia
jugalah yang mula - mula mempraktekkan pembedahan penyakit - penyakit bengkak
yang ganas, dan menjahitnya. Dan last but not list dia juga terkenal
sebagai dokter ahli jiwa dengan cara - cara modern yang kini
disebut psikoterapi.
Dibidang
filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan
sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya
dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan
memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof
kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of
Islam-nya Alfred Gullaume; “Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak
dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan
sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan
digemari orang karena peperangan - peperangan yang meraja lela di sebeleah
Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain
membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan
keterangan yang luas.
Selain
kepandaiannya sebagai flosof dan dokter, iapun penyair. Ilmu - ilmu pengetahuan
seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia ada yang ditulisnya dalam bentuk syair.
Begitu pula didapati buku - buku yang dikarangnya untuk ilmu logika dengan
syair.
Kebanyakan
buku - bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Ketika orang - orang Eropa
diabad tengah, mulai mempergunakan buku - buku itu sebagai textbook, diberbagai
universitas. Oleh karena itu nama Ibnu Sina dalam abad pertengahan di Eropah
sangat berpengaruh.
Dalam
dunia Islam kitab - kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan
ilmunya, akan tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat
terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa
Persia. Buku - bukunya dalam bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam
tahun 1954.
Karya - karya Ibnu Sina
yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al Isyarat.
An-Najat adalah resum dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat, dikarangkannya kemudian,
untuk ilmu tasawuf. Selain dari pada itu, ia banyak menulis karangan - karangan
pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis ketika ia
memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera dikarangnya.
Sekalipun
ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering sibuk dengan soal negara, ia
menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang paling
masyhur adalah “Qanun” yang merupakan ikhtisar pengobatan
Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini dterjemahkan ke baasa Latin
dan diajarkan berabad lamanya di Universita Barat. Karya keduanya adalah
ensiklopedinya yang monumental “Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan titik
puncak filsafat paripatetik dalam Islam.
- Karya-karya Ibnu
sina
Diantara
karangan - karangan Ibnu Sina adalah :
1.
As- Syifa’ ( The Book of Recovery or The Book of Remedy = Buku tentang
Penemuan, atau Buku tentang
Penyembuhan).
Buku
ini dikenal didalam bahasa Latin dengan nama Sanatio, atau Sufficienta. Seluruh
buku ini terdiri atas 18 jilid, naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan di
Oxford University London. Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M) dan
berakhir pada tahun wafatnya (1037 M). Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu :
Ø Logika
(termasuk didalamnya terorika dan syair) meliputi dasar karangan Aristoteles
tentang logika dengan dimasukkan segala materi dari penulis - penulis Yunani
kemudiannya.
Ø Fisika
(termasuk psichologi, pertanian, dan hewan). Bagian - bagian Fisika meliputi
kosmologi, meteorologi, udara, waktu, kekosongan dan gambaran).
Ø Matematika.
Bagian matematika mengandung pandangan yang berpusat dari elemen - elemen
Euclid, garis besar dari Almagest-nya Ptolemy, dan ikhtisar - ikhtisar tentang
aritmetika dan ilmu musik.
Ø Metafisika.
Bagian falsafah, poko pikiran Ibnu sina menggabungkan pendapat Aristoteles
dengan elemen - elemennya Neo Platonic dan menyusun dasar percobaan untuk
menyesuaikan ide-ide Yunani dengan kepercayaan - kepercayaan.
2. Nafat,
buku ini adalah ringkasan dari buku As-Syifa’.
3. Qanun,
buku ini adalah buku lmu kedokteran, dijadikan buku pokok pada Universitas Montpellier (Perancis) dan Universitas Lourain
(Belgia).
4. Sadidiyya.
Buku ilmu kedokteran.
5. Al-Musiqa.
Buku tentang musik, dll.
- Filsafat Ibnu sina
- Filsafat
Jiwa
Ibnu
Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan,
sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku - buku yang khusus untuk soal -
soal kejiwaan ataupun buku - buku yang berisi campuran berbagai persoalan
filsafat.
. Segi - segi kejiwaan pada Ibnu Sina
pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi yaitu :
Ø Segi
fisika yang membicarakan tentang macam - macamnya jiwa (jiwa tumbuhkan, jiwa
hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan - kebaikan, jiwa manusia, indera
dan lain - lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam pengertian ilmu
jiwa yang sebenarnya.
Ø Segi
metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa
dengan badan dan keabadian jiwa.
- Filsafat
Wujud.
Bagi
Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas
segala sifat lain, walaupun essensi sendiri. Essensi, dalam faham Ibnu Sina
terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat
tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud,
essensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari essensi.
Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu
menimbulkan falsafat wujudiah atau existentialisasi dari filosof - filosof
lain.
Kalau
dikombinasikan, essensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :
Ø Essensi
yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu
Sina mumtani yaitu sesuatu yang mustahil berwujud.
Ø Essensi
yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa
ini disebut mumkin yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin
pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada
kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
Ø Essensi
yang tak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Disini essensi tidak bisa
dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu. Di sini essensi
tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud, sebagaimana halnya
dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai
wujud selama - lamanya. Yang serupa ini disebut mesti berwujud yaitu
Tuhan. Wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud.
Dalam
pembagian wujud kepada wajib dan mumkin, tampaknya Ibnu
Sina terpengaruh oleh pembagian wujud para mutakallimun kepada : baharu
(al-hadits) dan Qadim (al-Qadim). Karena dalil mereka tentang wujud Allah
didasarkan pada pembedaan - pembedaan “baharu” dan “qadim” sehingga
mengharuskan orang berkata, setiap orang yang ada selain Allah adalah baharu,
yakni didahului oleh zaman dimana Allah tidak berbuat apa - apa. Pendirian ini
mengakibatkan lumpuhnya kemurahan Allah pada zaman yang mendahului alam mahluk
ini, sehingga Allah tidak pemurah pada satu waktu dan Maha Pemurah pada waktu
lain. Dengan kata lain perbuatan-Nya tidak Qadim dan tidak mesti wajib.
- Filsafat
Wahyu dan Nabi
Pentingnya
gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah
diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, “imajinatif”,
keajaiban, dan sosio politis. Totalitas keempat tingkatan ini memberi kita
petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran keagamaan.
Akal
manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal intelektual,
akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut tingkatan akal yang
terendah adalah akal materiil. Ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia
akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu Sina diberi namaal
hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua ini begitu
besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan
akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal
serupa ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat
diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi - nabi.
Jadi
wahyu dalam pengertian teknis inilah yang mendorong manusia untuk beramal dan
menjadi orang baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham
belaka. Maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal murni. Namun demikian,
wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai kualitas potensi yang diperlukan, juga
tak pelak lagi menderita karena dalam kenyataannya wahyu tersebut tidak
memberikan kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam selubung simbol –
simbol.
Namun sejauh mana wahyu itu mendorong ?.
Kecuali kalau nabi dapat menyatakan wawasan moralnya ke dalam tujuan – tujuan
dan prinsip – prinsip moral yang memadai, dan sebenarnya ke dalam suatu
struktur sosial politik, baik wawasan maupun kekuatan wahyu imajinatifnya tak
akan banyak berfaedah. Maka dari itu, nabi perlu menjadi seorang pembuat hukum
dan seorang negarawan tertinggi – memang hanya nabilah pembuat hukum dan
negarawan yang sebenarnya.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Nama lengkap Ibnu Sina
adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di
Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada
pemerintahan Dinasti Saman. Di Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah
kedokteran dan ilmu-ilmu agama Islam.
Ibnu Sina memiliki
pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan
filsafatnya. Ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan keagamaannya
mewarnai alam pikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis
dalam berfilsafat, sementara al-Ghazali menjulukinya sebagai Filsuf yang
terlalu banyak berfikir.
Ada tiga konsep
filsafat ibnu sina yaitu:
1. Filsafat
jiwa.
2. Filsafat
wujud.
3. Falsafah
wahyu dan nabi.
DAFTAR
PUSTAKA
Nasution, Hasyimsah, Filsafat
Islam, Cet. Ke-3, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002
Syarif, M.M. History of Muslim Philosophy, vol. I, Wisbaden: Otto Horossowitz, 1963
Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam filosof dan filsafatnya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
http://nurulwatoni.tripod.com/FILSAFAT_IBNU_SINA.htm
Syarif, M.M. History of Muslim Philosophy, vol. I, Wisbaden: Otto Horossowitz, 1963
Zar, Sirajuddin, Filsafat Islam filosof dan filsafatnya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
http://nurulwatoni.tripod.com/FILSAFAT_IBNU_SINA.htm

