Jumat, 09 Januari 2015

maaf !!!!!!!

maaf !!!!bukannya saya tidak menghargai perasaan mereka yang mencintai saya,
namun untuk saat ini saya blum siap untuk bermain dengan cinta, yang katanya buta, tuli dan bisu itu,
karena untuk saat ini prioritas utama saya adalah keluarga, yang ada dalam pikiran saya bagaimana cara membahagiakan keluarga saya, bagaimana supaya hari tua ayah dan ibu saya kelak bahagia tampa harus memikirkan bagaimana cara mencari uang untuk makan dan minum, dan tampa harus memikirkan anaknya yang luntang lantuang.
saya merasa tidak adil dengan orng tua saya jika saya sibuk dengan maslah percintaan sedangkan mereka susah payah mencari uang untuk membiayai pendidikan saya.
sekali lagi maaf!!!!!


dari itu saya ingin sesukses mungkin demi keluarga saya.
dari itu saya hanya bisa berharap kalian mengerti, dan tidak menganggap saya gadis yang sombong dan angkuh.

ya allah sukseskan la saya, kakak, dan adik-adik saya kelak, agar kami tidak menjadi beban ke dua orang tua kami lagi, bahkan kami bisa membahagiakan mereka. dengan hasil keringat kami sendiri.      

Rabu, 07 Januari 2015

makalah pengindeksan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang

            Indeks merupakan istilah yang terdapat dalam bidang perpustakaan dan dianggap sebagai salah satu sistem temu kembali informasi. Mengindeks dan mengkatalog merupakan suatu kegiatan yang ada di perpustakaan, kedua pekerjaan tersebut sama namun sedikit berbeda, biasanya dalam mengindeks ada unsur sedikit menganalisa atau menguraikan suatu karya. Misalnya suatu karya dimana dimana dalam karya tersebut terdiri dari beberapa karya orang yang berbeda, baik judul maupun subyeknya, maka sebaiknya masing-masing itu perlu kita uraikan satu-persatu dengan membuatkan indeksnya.

            Pengindeks perlu mampu menentukan isi subyek sutau dokumen dengan menggunakan kosakata yang diperkenankan oleh sistem, pengindeks juga perlu memahami isi subyek dan menterjemahkan isi kedalam bahasa indeks yang diterapkan.
Setelah perang dunia ke II praktek mengindeks cenderung menerapkan sistem kosakata yang tidak terkendali. Pengindeks memilih kosakata yang digunakan oleh pengarang seperti yang terdapat dalam dokumen.
             Dalam pengindeksan disebut menggunakan "Natural Language” Dalam menerapkan kosakata yang terkendali untuk tugas-tugas mengindeks, kita memilih kosakata yang telah ditentukan oleh tajuk-tajuk subyek. Pengindeks menerapkan Natural Language seperti ditentukan dalam dokumen, kadang-kadang disebut “Indexing By Extraction”, karena kata-kata diambil dari dokumen itu sendiri. Antara tahun 1950-1960 menonjol pemakaian thesaurus untuk mengendaklikan kosakata dalam pengindeksan.
B.     Tujuan

            Memberi pemahaman kepada pembaca mengenai konsep Pengindeksan dan ringkasan, berikut menggunakan bahan bentuk indeks dan abstrak di dalam membantu mendapatkan informasi.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian indeks
            Indeks dan abstrak merupakan dua istilah yang terdapat dalam bidang Ilmu Perpustakaan, dan di anggap sebagai jantung kepada sistem akses informasi. Pengguna perpustakaan terutama para peneliti menggunakan indeks dan abstrak untuk mendeteksi bahan di Perpustakaan. Bahan yang biasa diindeks dan berisi ringkasan adalah artikel dari jurnal, kertaskerja persidangan dan tesis. Contoh bahan yang di indeks tetapi tidak di buat ringkasan adalah berita koran.
            Sebelum di terangkan lebih lanjut mengenai indeks dan abstrak, siswa harus memahami maksud bibliografi dan unsur informasi bibliografik.
B.     Pengertian  Bibliografi dan Unsur Info Bibliografik

            Bibliografi adalah daftar bahan-bahan yang disusun mengenai sesuatu perkara oleh orang perseorangan atau kelompok atau badan-badan tertentu.
Unsur informasi bibliografik atau data  bibliografik adalah entri-entri penting yang dapat digunakan untuk tujuan dapatan semula informasi. Contoh entri tersebut adalah: nama penulis, judul, perkara, tahun, dan informasi-informasi lain dari bahan yang ingin diindeks yang difikirkan penting.

1.      Definisi Pengindeksan

            Indeks merupakan istilah yang terdapat dalam bidang perpustakaan dan dianggap sebagai salah satu sistem temu kembali informasi.
Indeks dari segi bahasa didefinisikan sebagai :
   a. Sesuatu yang menunjuk atau menanda
   b. Daftar nama-nama yang disusun secara alfabetis
            Dengan kata lain indeks merupakan daftar urutan nama, tempat, ataupun subyek dalam sebuah dokumen yang diterbitkan. Daftar tersebut dapat menjadi rujukan untuk mencari dokumen yang dicari.
            Definisi lain menjelaskan pengindeksan adalah sebagai suatu proses menganalisa isi kandungan suatu bahan atau sumber informasi dan menerangkannya dengan menggunakan bahasa atau istilah di dalam sistem pengindeksan. Sistem pengindeksan ini bertujuan untuk menganalisa (menguraikan) suatu karya. Misalnya suatu karya dimana dalam karya tersebut terdiri dari beberapa karya orang yang berbeda, baik judul maupun subyeknya. Maka sebaiknya masing-masing karya itu perlu kita uraikan satu persatu dengan membuatkan indeksnya.
 Para pengguna perpustakaan biasanya menggunakan indeks untuk mencari dokumen yang ada di perpustakaan terutama dokumen yang biasa di indeks seperti; artikel dari jurnal, kertas kerja dan tesis.
            Sebuah indeks yang baik harus dapat memberi panduan yang spesifik, juga mampu menentukan lokasi sumber informasi dengan efisien dan dapat digunakan untuk mencari sumber-sumber informasi lain yang berkaitan, oleh kareena itu sebuah indeks harus lengkap dan tepat (complete and accurate).

2.      Fungsi Pengindeksan

            Fungsi-fungsi pengindeksan antara lain :
• Memberi panduan secara rinci untuk mendapatkan suatu bahan
• Memudahkan pencarian suatu bahan atau sumber informasi dengan baik dan benar
• Mmbantu dalam mencari suatu bahan yang akan dicari
• Memberitahu hubungan antara suatu bahan atau sumber informasi dengan bahan atau sumber informasi lainnya
• Menyediakan suatu pandangan yang menyeluruh yang terdapat dalam teks atau koleksi.

3.      Unsur-unsur indeks

            Unsur-unsur indeks antara lain :
    a. Kosakata :
• Hubungan antara klasifikasi-pengindeksan
• Perbedaan dan persamaan entri klasifikasi
• Tajuk subyek, istilah, deskriptor, kata kunci (Keyword).
    b. Bentuk Indeks :
• Bentuk-bentuk yang ada
• Bentuk-bentuk indeks yang dihasilkan komputer.
      4.  Jenis-jenis indeks
                a. Indeks Belakang Buku
            Indeks belakang buku adalah suatu istilah yang terdapat dibelakang sebuah buku dan biasanya disusun sesuai urutan abjad. Indeks ini digunakan sebagai panduan oleh pengguna dalam mencari topik yang dikehendaki tanpa perlu membaca keseluruhan isi dari suatu dokumen.
Contoh indeks belakang buku seperti yang terdapat dalam Encyclopedia Britannica adalah :
Automatic indexing
Definition, 177
Nature of, 147-52
Other approaches, 152
Automatic methods
Abstracting, 153-54
    b. Indeks Berantai
            Indeks berantai adalah suatu kaedah mengindeks yang dapat membantu pengguna mengetahui hubungan antara satu istilah dengan istilah yang lain. Indeks berantai menghubungkan setiap konsep dengan konsep lain yang berkaitan. Indeks berantai menyediakan entri-entri tunggal secara terpilih satu demi satu yang tersusun sesuai dengan urutan abjad.
Contoh indeks berantai seperti yang telah diperkenalkan oleh Ranganathan yaitu :
UNITED STATES
Television industry. Computer. Animation.
TELEVISION. United States.
Computers. Animation.
COMPUTERS. Television industry. United States.
Animation.
ANIMATION. Computers.
Television industry. United States.
     c. Indeks Nama Pengarang (Author Index)
            Indeks nama pengarang adalah suatu data yang berdasarkan urutan abjad nama pengarang. Pembaca biasanya merujuk kepada suatu hasil penulisan berdasarkan nama pengarang. Indeks berantai ini dapat membantu pengguna dalam mengenal suatu dokumen atau sumber informasi berdasarkan bidangnya, karena biasanya seorang pengarang itu kerap kali menulis dan dikenali berdasarkan bidang yang digelutinya.
                d. Indeks Berabjad
            Seperti halnya indeks nama pengarang indeks berabjad pada umumnya disusun sesuai urutan abjad berdasarkan subyek-subyek tertentu. Indeks ini dapat menjadi panduan ringkas dan terperinci dengan memasukkan istilah yang berkaitan termasuk nama pengarang dan nama tempat.
     e. Indeks Kata Kunci (Keyword Index)
            Indeks kata kunci adalah satu bentuk indeks yang dibuat berdasarkan istilah yang terdapat dalam setiap dokumen. Misalnya, yang dapat menjadi penunjuk kepada seluruh isi kandungannya. Salah satu dari sumber istilah tersebut adalah judul (tittle).
           

            5.  komponen indeks                                                                                                                                                                                                                                   komponen utama bagi sebuah indeks adalah entri indeks (Indeks Entry) yang berfungsi sebagai panduan isi sebuah dokumen atau koleksi dari ilmu pengetahuan yang direkam (Recorder Knowledge). Entri ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
• Headings, biasanya meliputi kata kunci atau istilah menerangkan suatu perkara.
• Modification, menerangkan suatu perkara dengan lebih tepat. Modifikasi yang baik akan membantu mempastikan kerelevanan bagi suatu entri. Ketepatan modifikasi yang tinggi akan meminimalkan resiko memperoleh hasil pencarian yang tidak relevan.
• References, atau disebut juga dengan “Locator “ atau petunjuk dengan menggunakan simbol, nomor kelas, yang menerangkan suatu bahan atau sumber informasi.
Contoh:
Heading ————- Abstracting 22-2
Forms 169-70
Modification ———– Journal 151-6
Petunjuk 30-1 ———– Reference
C.     Pengindeksan Berkomputer

            Pengindeksan juga dapat dilakukan secara otomatis yaitu dengan menngunakan komputer. Salah satunya dengan adanya perangkat lunak khusus dan dengan cara membuat pangkalan data, proses pengindeksan ini dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat. Perangkat lunak yang digunakan seperti CDS / ISIS (Computerized Documentation System / Integrated Set of Information Systems), PASCALadalah perangkat lunak yang mudah digunakan dan sesuai untuk membuat pangkalan data untuk menyimpan dan mendapatkan informasi.
Perangkat lunak ini memberi kemudahan kepada pengguna yaitu :
• Menentukan jenis dan bentuk entri dalam sebuah pangkalan data yang telah dibuat.
• Memasukan data terbaru
• Melakukan pengindeksan dalam menyusun entri-entri.
• Melakukan pencarian (searching).
• Melakukan cetakan (printing).
Layanan Pengindeksan dan pengabstrakan ini dapat dilakukan melalui 2 cara :
• Secara petunjuk yaitu menggunakan kartu. Kemudian kartu ini akan disusun menurut abjad sama ada bawah penulis atau kata sumber / perkara
• Secara elektronik yaitu menggunakan komputer. Biasanya semua data yang dimasukkan ke dalam komputer akan diindeks oleh perangkat lunak yang digunakan. Proses penyusunan (sorting) akan di buat secara otomatis
Contoh Dokumen yang biasa di Indeks :
Bahan Buku
• Pengarang
• Judul buku
• Edisi
• Tempat terbit
• Penerbit
• Tahun di terbitkan
Contoh : Yusup Hashim. Teknologi pengajaran. Edisi 2. Shah Alam: Fajar Bakti, 1998.
Bahan Jurnal
• Pengarang
• Judul artikel
• Judul Jurnal
• Jilid
• Nomor / bilangan
• Tahun di terbitkan
• Muka surat
Contoh : Ding, Choo Ming. Khidmat abstrak, indeks di Internet. Pemikir 13. (Juli – September 1998): 175-190.
Artikel Surat kabar
• Pengarang
• Judul artikel
• Judul koran
• Tanggal di terbitkan
• Muka surat
• Kolom
Contoh: Shamsul Azree. Banyak kerabat GAPENA tidak aktif. Berita Harian, 31.12.1993: 25
Kertas kerja seminar / persidangan
• Pengarang
• Judul kertas kerja
• Nama Seminar
• Tempat Seminar
• Tahun Seminar diadakan
Contoh: Ahmad Kamari. Application of approriate engineering principles to improve food processing efficiency. Food engineering and the food industry seminar. Serdang, 17 May, 1983.
Bahan Tesis
• Pengarang
• Judul tesis
• Jenis tesis
• Tahun di terbitkan
Contoh: Amran Kasimin. Arabic words in the Indonesian vocabulary. Tesis Sarjana Universitas Kebangsaan Malaysia, 1976.














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Indeks merupakan hal yang penting kepada para pengguna terutama kepada para peneliti. Kini kebanyakan informasi dapat diakses melalui layanan indeks berkomputer atau secara online di dalam bentuk pangkalan data CD-ROM atau melalui Internet. Hanya dengan mengetik kata-kata berdasarkan kata sumber tertentu yang diperlukan, semua bahan atau sumber informasi yang berkaitan dengan kata tersebut akan terdaftar.
            Pencarian informasi dengan metode ini lebih mudah daripada metode lama yaitu melalui indeks dalam bentuk petunjuk. Dengan cara yang lama pengguna harus melihat indeks yang kadang-kala mempunyai banyak jilid atau jumlah kartu yang banyak sebelum mengetahui informasi yang dicari atau diperlukan. Dengan proses Pengindeksan dibantu oleh sistem berkomputer, ia akan menjadikan proses pencarian informasi menjadi lebih efisien dan efektif.














DAFTAR PUSTAKA

Ø Pringgoadisuryo, Luwarsih, Hubungan Indeks-menelusur Informasi.dalam Kerjasama Jaringan Perpustakaan dan Akses Informasi. Jakarta : Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional, 1995.
Ø Rimbarawa, Kosam, Dasar-dasar Organisasi Informasi. Jakarta : Hakaeser, 2007.
Ø Soekarman K, Daftar Tajuk Subyek Untuk Perpustakaan. Jakarta : Gunung Mulia, 1990.


makalah spi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Masuk dan berkembang pesatnya agama Islam di Indonesia pada abad ke-13 – 17 M memunculkan banyak pendapat yang berbeda-beda bahkan saling bertentangan. Khususnya tentang darimana agama ini datang dan siapa yang membawanya masuk. Begitu pula mengenai saluran-saluran komunikasi yang digunakan sehingga memungkinkan agama ini diterima secara luas oleh penduduk Nusantara dalam waktu yang relatif singkat. Semula diduga bahwa yang membawa dan memperkenalkan agama ini di kawasan ini ialah pedagang-pedagang dari Gujarat, India. Sejak itu perdagangan dipandang sebagai saluran utama bagi pesatnya perkembangan Islam di kepulauan Nusantara. Tetapi penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa faktornya sangat kompleks. Sebelum berkembang pesat, Islam harus menempuh jalan yang berliku-liku dan rumit serta panjang, dan faktornya bukan hanya pedagang semata-mata.
 Bukti-bukti yang lebih absah seperti berita-berita Arab, Persia, Turki, dan teks-teks sejarah lokal memperkuat keterangan bahwa Islam hadir di kepulauan Nusantara dibawa langsung dari negeri asalnya oleh pedagang-pedagang Arab, Persia dan Turki. Gujarat dan bandar-bandar lain di India seperti Malabar dan Koromandel hanyalah tempat persinggahan saja sebelum mereka melanjutkan pelayaran ke Asia Tenggara dan Timur Jauh. Pada abad ke-12 dan 13 M, disebabkan banyaknya kekacauan dan peperangan di Timur Tengah termasuk Perang Salib, mendorong penduduk Timur Tengah semakin ramai melakukan kegiatan pelayaran ke asia tenggara

B.     Rumusan Masalah.

1.      Proses apa saja yang berlangsung dari masuknya islam ke melayu ?
2.      Kerajaan apa yang pertama kali berdiri ?
3.      Perkembangan apa yang terjadi di wilayah nusantara setelah islam masuk ?
4.      Peninggalan-peninggalan  sejarah dari masuknya islam ke wilayah melayu?
5.      Apa pengaruhnya  islam masuk ke wilayah melayu?














BAB II
PEMBAHASAN

A.    Masuknya islam ke melayu

Pada abad ke-5 SM kepulauan melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke china dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar pesisir. Islam masuk ke wilayah melayu  dengan jalan damai, terbuka tanpa pemaksaan sehingga islam sangat mudah diterima masyarakat melayu.
Sejak abad pertama, kawasan selat malaka sudah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasiaonal yang dapat menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Barat.perkembangan pelayaran dan perdagangan internasiaonal yang terbentang jauh dari teluk persia sampai china melalui selat malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan besar, yaitu china dibawah Dinasti tang (618-907),kerajaan sriwijaya (abad ke-7-14), dan dinasti  umayyah (660-749).
Menurut Taufik abdullah, belum ada bukti bahwa pribumi indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu beragama islam, Adanya para pedagang Arab tersebut, hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik bagi pelayaran. pelabuhan-pelabuhan penting di sumatra dan jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi pedagang asing, seperti lamuri (aceh), Barus dan palembang si sumatera, (sunda kelapa dan gresik di jawa) .

Ada beberapa pendapat dari para ahli sejarah mengenai masuknya Islam ke kawasan Melayu:
 a.       Menurut Zainal Arifin Abbas, Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M (684 M). Pada tahun tersebut datang seorang pemimpin Arab ke Tiongkok dan sudah mempunyai pengikut dari Sumatera Utara.
b.      Menurut Dr. Hamka, Agama islam masuk ke Indonesia pada tahun 674 M. berdasarkan catatan Tiongkok, saat itu datang seorang utusan Raja Arab Ta Cheh (kemungkinan Muawiyyah bin Abu Sufyan) ke kerajaan Ho Ling (Kaling/Kalingga) untuk membuktikan keadilan, kemakmuran dan keamanan pemerintah Ratu Shima di Jawa.
c.       Menurut Drs. Juneid Parinduri, Agama Islam masuk ke Indonesia pada tahun  760 M karena di Barus Tapanuli, didapatkan sebuah makam yang ber angka Haa-Mii.
d.      Seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia di Medan tanggal 17-20 Maret 1963, mengambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad 1 H/ abad 7 M langsung dari Arab.
        B.  Berdirinya kerajaan-kerajaan islam
Kerajaan Melayu yang paling awal tercatat dalam sejarah tumbuh dari kota pelabuhan tepi pantai yang dibuat pada abad ke-10. Di dalamnya termasuk Lang kasuka Lembah Bujang di Kaedah, dan juga Beruas dan Gangga. Negara di Perak dan Pan-Pan Kelantan, diperkirakan  semuanya adalah kerajaan Hindu atau Budha. Islam tiba pada abad ke-14 di Trengganu.
Kesultanan Malaka didirikan dibawah sebuah dinasti, yang didirikan oleh Parameswara, pangeran dari Palembang, Indonesia, di dalam kekaisaran Sriwijaya. Menurut Tarikh melayu, disitulah dia menyaksikan kancil mengecoh anjing ketika berteduh dibawah pohon Malaka. Dia mengambil apa yang dia lihat sebagai pertanda yang baik dan kemudian dia mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Malaka, kemudian ia membangun dan memperbaiki fasilitas untuk tujuan perdagangan. Peralihan agama Parameswara ke Islam tidaklah jelas. Menurut sebuah teori oleh Sabri Zain, Parameswara menjadi seorang muslim ketika dia menikahi seorang Puteri Samudera Pasai dan dia menyertakan gelar bergaya Persia “Shah”, dengan menyebut dirinya Iskandar Shah.
Menurut Uka Tjandra Sasmita, proses masuknya Islam ke wilayah Melayu yang berkembang ada enam,5 yaitu:
a.  Saluran perdagangan
Proses masuknya Islam adalah melelui perdagangan. Kesibukan perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagang-pedagang Muslim (Arab, Persia, dan India) turut andil dalam perdaganagan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan Timur Benua Asia. Melalui saluran perdagangan ini sangat menguntungkan karena para Raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.
b.  Saluran Perkawinan
Para pedagang Muslim memiliki status sosisal yang lebih baik dari pada kebanyakan pribumi, karena penduduk pribumi terutama putri-putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum menikah mereka di Islamkan terlebih dahulu.Ada pula wanita Muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan; tentu saja setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar Muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati.
c.  Saluran Tasawuf
Pengajaran-pengajaran tasawuf atau para sufi mengajarkan teofosi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan yang menyembuhkan. Dengan tasawuf,”bentuk” Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama naru itu mudah dimengerti dan diterima. Ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M.
d.  Saluran Pendidikan
Proses Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Dipesantren atau pondok itu , calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang kekampung masing-masing atau berdakwah ketempat tertentu mengajarkan Islam.
e.  Saluran Kesenian
Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Kesenian-kesenian lainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.
f.  Saluran Politik
Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.
C.  Kondisi Dan Situasi Politik Kerajaan-Kerajaan Di Wilayah Melayu
Masuknya Islam ke daerah-daerah di wilayah Melayu tidak dalam waktu yang bersamaan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M, kerajaan Sriwijaya meluaskan kekuasaannya kedaerah Semenanjung Malaka sampai Kaedah. Penguasaan Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional. Keterlibatan orang-orang Islam dalam bidang politik baru terlihat pada abad ke-9 M, ketika merekaterlibat dalam pemberontakan petani-petani Chinaterhadap kekuasaan T’ang pada masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-899).
Sebagian Muslim terbunuh, dan sebagian lainnya lari ke Kedah dan Palembang untuk meminta perlindungan dari kerajaan Sriwijaya. Kemunduran politik dan ekonomi Sriwijaya dipercepat oleh usaha-usaha kerajaan Singasari yang sedang bangkit di Jawa. Kerajaan Jawa ini melakukan ekspedisi Pamalayu tahun 1275 M dan dan berhasil mengalahkan kerajaan Melayu di Sumatera.
Kelemahan Sriwijaya dimanfaatkan pula oleh pedagang-pedaganag muslim untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan politik dan perdagangan. Banyaknya daerah-daerah yang muncul dan daerah yang menyatakan diri sebagai kerajaan bercorak Islam, yaitu kerajaan Samudera Pasai dipesisir Timur Laut Aceh.6 Kerajaan Samudera Pasai dengan segera berkembang baikdalam bidang politik maupun perdagangan.
Kekacauan-Kekacauan dalam negeri sendiri akibat perebutan kekuasaan di istana Kerajaan Singasari, juga berlanjut kerajaan Majapahit tidak mampu mengontrol daerah Melayu dan Selat Malaka dengan baik, sehingga kerajaan Samudera Pasai dan Malaka dapat berkembang dan mencapai puncak kekuasaannya hingga anad ke-16 M.7
Untuk menghindari gangguan Portugis yang menguasai Malaka, untuk sementara waktu kapal-kapal memilih berlayar menelusuri pantai Barat sumatera.
Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1515), dalam Suma oriental-nya, dapat diketahui bahwa daerah-daerah dibagian pesisir Sumatera Utara dan Timur Selat Malaka, yaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat masyarakat dan kerajaan Islam. Proses Islamisasi kedaerah-daerah pedalaman Aceh, Sumatera Barat, terutama terjadi sejak Aceh melakukan ekspansi politiknya pada abad ke-16 dan ke-17 M.
A. Kerajaan Kerajaan Islam Pertama di Sumatera
1. Samudera Pasai
Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Kembar. Kerajaaan ini terletak dipesisir Timur Laut Aceh. Bukti berdirinya kerajaan samudera pasai pada abad ke-13 M itu didukung oleh adanya nisan kubur terbuat dari granit asal Samudera Pasai. Raja pertama kerajaan itu meninggal pada bulan ramadhan tahun 696 H, yang diperkirakan bertepatan dengan tahun 1297 M.
Malik Al-Saleh, Raja pertama itu, merupakan pendiri kerajaan tersebut. Hal itu diketahui melalui tradisi hikayat raja-raja Pasai, Hikayat Melayu. Dari segi peta politik, munculnya kerajaan samudera pasai abad ke-13 M itu sejalan dengan suramnya peranan maritim kerajaan Sriwijaya. Gelar Malik Al-Saleh sebelum menjadi raja adalah Merah Sile atau Merah Selu. Ia masuk islam berkat pertemuannya dengan Syaikh Ismail, seorang utusan Syarif Mekah, yang kemudian memberinya gelar sultan Malik Al-Saleh. Merah Selu adalah putra Merah Gajah.
2. Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh terletak didaerah yang sekarang dikenal dengan nama kabupaten aceh besar. Disini pula terletak ibu kotanya. Anas Machmud berpendapat kerajaan aceh berdiri pada abad ke-15 M, diatas puing-puing kerajaan Lamuri, oleh Muzaffar Syah (1465-1497 M). menurut H. J. de Graaf, aceh menerima Islam dari pasai yang kini menjadi wilayah Aceh dan pergantian agama diperkirakan terjadi mendekati pertengahan abad ke-14.9
Kerajaan Aceh merupakan penyatuan dari dua kerajaan kecil yaitu Lamuri dan Aceh Dar Al-Kamal. Rajanya yang pertama adalah Ali Mughayat Syah. Ali Mughayat Syah meluaskan wilayah kekuasaan kedaerah Pidie. Untuk mengatur daerah Sumatera Timur, raja Aceh mengirim panglima-panglimanya, salah seorang diantaranya adalah Gocah, pahlawan yang menurunkan Sultan-sultan Deli dan Serdang.10
Peletak dasar kerajaan Aceh adalah sultan Alauddin Riayat Syah yang bergelar Al-Qahar. Puncak kekuasaan kerajaan Aceh terletak pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1608-1637). Aceh menguasai pelabuhan dipesisir timur dan Barat Sumatra. Dari Aceh, Tanah Gayo yang berbatasan diislamkan, juga Minangkabau. Beberapa sultan perempuan menduduki singgasana pada tahun 1641-1699 M.
B. kerajaan-kerajaan islam pertama di jawa
1. Demak
Dibawah pimpinan Sunan Ampel Denta, Wali Songo bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama diJawa, dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.11 Demak yang masih bernama Bintoro merupakan daerah vasal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Raden Patah.
Penerimaan Raden Patah berlangsung kira-kira diakhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. ia adalah seorang anak raja Majapahit dari seorang ibu muslim keturunan Campa. Ia digantikan anaknya, Sambrang Lor, dikenal juga dengan nama pati Unus. Menurut Tome Pires, Pati Unus baru berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507. Pati Unus digantikan oleh Trenggono yang dilantik sebagai sultan oleh Sunan Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul ‘Arifin. Ia memerintah pada tahun 1524-1546. Penaklukan sunda Kelapa berakhir tahun 1527 yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan.
2. Pajang
Kesultanan yang terletak di daerah Kartasura sekarang ini merupakan kerajaan Islam pertama yang terletak didaerah pedalaman pulau Jawa. Sultan atau Raja pertama kesultanan ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari Pengging, dilereng Gunung Merapi. Kediaman penguasa Pajang itu, menurut Babad dibangun dengan mencontoh Kraton Demak. Jaka Tingkir yang telah menjadi penguasa Pajang itu dengan segera mengambil alih kekuasaan,14
Karena anak sulung sultan Trenggono yang menjadi pewaris tahta kesultanan, susuhunan Prawoto, dibunuh oleh keponakannya, Aria Panangsang yang waktu itu menjadi penguasa di Jipang (Bojonegoro sekarang). Setelah Jaka Tingkir menjadi raja yang paling berpengaruh di pulau Jawa, ia bergelar Sultan Adiwijaya. Sultan Adiwijaya memperluas kekuasaannya di tanah pedalaman kearah Timur sampai daerah Madiun, di aliran anak sungai Bengawan Solo yang terbesar. 
3. Mataram
Awal dari kerajaan mataram adalah ketika sultan adiwijaya dari Pajang meminta bantuan kepada Ki Pamahanan yang berasal dari daerah pedalaman untuk menghadapi dan menumpas pemberontakan Aria Panangsang tersebut.
Pada tahun 1577 M, Ki Gede Pamanahan menempati istana barunya di Mataram. Senopatilah yang dipandang sebagai Sultan Mataram Pertama. Senopati menolak dan hanya meminta pusaka kerajaan, diantaranya Gong Kiai Skar Dlima, Kendali Kiai Macan Guguh, dan Pelana Kiai Jatayu.15Senopati kemudian berkeinginan menguasai juga semua raja bawahan Pajang.
Melalui perjuangan berat, peperangan demi peperangan, barulah ia berhasil menguasai sebagian. Senopati meninggal dunia tahun 1601 M, dan digantikan oleh putranya Seda Ing Krapyak yang memerintah sampai tahun 1613 M. Seda Ing Krapyak di ganti oleh putranya, Sultan Agung, yang melanjutkan usaha ayahnya. Pada tahun 1619, seluruh Jawa Timur praktis sudah berada dibawah kekuasaannya. Pada tahun 1630 M, sultan agung menetapkan Amangkurat I sebagai putra Mahkota.
4. Cirebon
Kerajaan ini didirikan oleh sunan gunung jati. Di awal abad ke-16, Cirebon masih merupakan sebuah daerah kecil dibawah kekuasaan Pakuan Pajajaran. Pangeran Walangsungsang, seorang tokoh yang mempunyai hubungan darah dengan raja Pajajaran. Disebutkan oleh Tome Pires, Islam sudah ada di Cirebon sekitar 1470-1475 M. Orang yang berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kerajaan adalah Syarif Hidayat yang terkenal dengan gelar Sunan Gunung Jati.
Sebagai keponakan dari Pangeran Walangsungsang, Sunan Gunung Jati juga mempunyai hubungan darah dengan  raja Pajajaran.17Raja dimaksud adalah Prabu Siliwangi, raja Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran, yang nikah dengan Nyai Subang Larang tahun 1422. Dari perkawinannya itu lahirlah tiga orang putra, masing-masing Raden walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sengara. Sunan Gunung Jati adalah putra Nyai Lara Santang dari perkawinannya dengan Maulana Sultan Mahmud alias Syarif Abdullah dari Bani Hasyim, ketika Nyai itu naik haji.
Penyerangan ini dipimpin oleh Falaehan dengan bantuan tentara Demak. Setelah Sunan Gunung Jati wafat ia digantikan oleh cicitnya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Panembahan Ratu wafat tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya. Cirebon diperintahkan oleh dua putranya, Martawijaya atau Panembahan Sepuh dan Kartawijaya atau Panembahan Anom. Panembahan Sepuh memimpin Ksultanan Kasepuhan sebagai rajanya yang pertama dengan gelar Samsuddin, sementara panembahan Anom memimpin kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin.
5. Banten
Dalam tulisan sunda kuno, cerita parahyangan, disebut-sebut nama Wahanten Girang. Pada tahun 1524 atau 1525, Sunan Gunung Jati dari Cirebon, meletakkan dasar bagi pengenbangan agama dan kerajaan Islam serta bagi perdagangan orang-orang Islam disana.18 Penguasa Pajajaran di Banten menerima Sunan Gunung Jati denga ramah tamah dan tertarik masuk islam. Menurut berita Barrs, penyebaran islam di jawa barat tidak melalui jalan damai.
Untuk menyebarkan islam dijawa barat, langkah Sunan Gunung Jati berikutnya adalah menduduki pelabuhan Sunda yang sudah tua, kira-kira tahun 1527 M.
Kekuasaannya atas Banten diserahkan kepada putranya, Hasanudin. Hasanudin sendiri kawin dengan putri Demak dan diresmikan menjadi Penembahan Banten tahun 1552 M. Pada tahun 1568, disaat kekuasaan Demak beralih ke Pajang, Hasanuddin memerdekakan Banten. Hasanuddin pergi kira-kira tahun 1570 dan diganti oleh anakanya, Yusuf.19Tahun 1579, Yusuf menaklukkan Pakuwan yang belum Islam yang waktu itu masih menguasai sebagian besar daerah pedalaman Jawa Barat.20Setelah Yusuf meninggal dunia tahun 1580 M, ia digantikan oleh putranya Muhammad. 
          D. Perkembangan Keagamaan dan Peradaban
Disamping itu pengaruh ajaran Islam sendiripun telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan Masyarakat Asia Tenggara. Islam mentransformasikan budaya masyarakat yang telah di-Islamkan di kawasan ini, secara bertahap. Islam dan etos yang lahir darinya muncul sebagai dasar kebudayaan.
Pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kaum bangsawan. Tradisi pendidikan Islam melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap Muslim diharapkan mampu membaca al Qur’an dan memahami asas-asas Islam secara rasional dan dan dengan belajar huruf Arab diperkenalkan dan digunakan di seluruh wilayah dari Aceh hingga Mindanao.
Bahasa-bahasa lokal diperluasnya dengan kosa-kata dan gaya bahasa Arab. Bahasa Melayu secara khusus dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di Asia Tenggara dan menjadi media pengajaran agama. Bahasa Melayu juga punya peran yang penting bagi pemersatu seluruh wilayah itu.
Sejumlah karya bermutu di bidang teologi, hukum, sastra dan sejarah, segera bermunculan. Banyak daerah di wilayah ini seperti Pasai, Malaka dan Aceh juga Pattani muncul sebagai pusat pengajaran agama yang menjadi daya tarik para pelajar dari sejumlah penjuru wilayah ini.
Masjid atau Surau menjadi lembaga pusat pengajaran. Namun beberapa lembaga seperti pesantren di Jawa dan pondok di Semenanjung Melaya segera berdiri. Hubungan dengan pusat-pusat pendidikan di Dunia Islam segera di bina. Tradisi pengajaran Paripatetis yang mendahului kedatangan Islam di wilayah ini tetap berlangsung.
Ibadah Haji ke Tanah Suci di selenggarakan, dan ikatan emosional, spritual, psikologis, dan intelektual dengan kaum Muslim Timur Tengah segera terjalin. Di bawah bimbingan para ulama Arab dan dukungan negara, wilayah ini melahirkan ulama-ulama pribumi yang segera mengambil kepemimpinan lslam di wilayah ini. Semua perkembangan bisa dikatakan karena lslam, kemudian melahirkan pandangan hidup kaum Muslim yang unik di wilayah ini.
Mengenai masalah identitas, internalisasi Islam, atau paling tidak aspek luarnya, oleh pendudukan kepulauan membuat Islam muncul sebagai kesatuan yang utuh dari jiwa dan identitas subyektif mereka. Namun fragmentasi politik yang mewarnai wilayah ini, di sisi lain, juga melahirkan perasaan akan perbedaan identitas politik diantara penduduk yang telah di Islamkan.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Karena penyebaran islam di melayu pertama-tama dilakuakan oleh para pedagang, pertumbuhan komunitas islam bermula di berbagai pelabuhan-pelabuhan penting di sumatera, jawa dan pulau lainnya. Kerajaan-kerajaan islam yang pertama berdiri juga di daerah pesisir.
            Di samping merupakan pusat-pusat politik dan perdaganan, ibu kota kerajaan juga merupakan tempat berkumpul para ulamak dan mubalig islam.    
           




















DAFTAR PUSTAKA
Yatim, M.A. Dr. Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta 1993
http://www.wikipedia.com


                                                

makalah ulumul hadis(macam2 hadis)

                                                                   BAB I
PENDAHULUAN

               A.    LATAR BELAKANG           
Kitab-kitab hadis yang beredar di tengah-tengah masyarakat dan dijadikan pegangan oleh umat Islam dalam hubungannya dengan hadits sebagai sumber ajaran Islam adalah kitab-kitab yang disusun oleh para penyusunnya setelah lama Nabi wafat. Dalam jarak waktu antara kewafatan Nabi dan penulisan kitab-kitab hadits tersebut telah terjadi berbagai hal yang dapat menjadikan riwayat hadits tersebut menyalahi apa yang sebenarnya berasal dari Nabi.  Baik dari aspek kemurniannya dan keasliannya.
Dengan demikian, untuk mengetahui apakah riwayat berbagai hadits yang terhimpun dalam kitab-kitab hadits tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah ataukah tidak, terlebih dahulu perlu dilakukan penelitian. Kegiatan penelitian hadits tidak hanya ditujukan kepada apa yang menjadi materi berita dalam hadits itu saja, yang biasa dikenal dengan masalah matan hadits, tetapi juga kepada berbagai hal yang berhubungan dengan periwayatannya, dalam hal ini sanadnya, yakni rangkaian para periwayat yang menyampaikan matan hadis kepada kita.
                    B.TUJUAN
1.menjadikan kritis dalam pengambilan hukum yang menyangkut hadis.
2.Berpedoman dengan hadits yang benar-benar dapat di terima keberadaanya.
                                      



                                   
                                                                    BAB II
                            PEMBAHASAN
               A . HADIST MUTAWATIR
                       1.Pengertian Mutawatir
Mutawatir secara etimologi berasal dari kata tawatara yang berarti beruntun, atau mutatabi, yakni beriring-iringan antara satu dengan lainnya tanpa ada jarak. Sedangkan secara
Mutawatir secara terminologi mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang yang menurut akal dan kebiasaan mustahil sepakat untuk berdusta.
Berdasarkan definisinya ada 4 kriteria hadits mutawatir, yaitu sebagai berikut:
 a).  Diriwayatkan sejumlah orang banyak
Para perawi hadis mutawatir syaratnya harus berjumlah banyak. Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah banyak pada para perawi hadis tersebut dan tidak ada pembatasan yang tetap. Di antara mereka berpendapat 4 orang, 5 orang, 10 orang, 40 orang, 70 orang dst.
 b).   Adanya jumlah banyak pada seluruh tingkatan sanad
Jumlah banyak orang pada setiap tingkatan (thabaqat) sanad dari awal sampai akhir sanad. Jika jumlah banyak tersebut hanya pada sebagian sanad saja maka tidak dinamakan mutawatir, tetapi dinamakan ahad atau wahid.
 c).   Mustahil bersepakat bohong
Di antara alasan pengingkar sunnah dalam penolakan mutawatir adalah pencapaian jumlah banyak tidak menjamin dihukumi mutawatir karena dimungkinkan adanya kesepakatan berbohong.

 d).  Sandaran berita itu pada pancaindra
Maksud sandaran pancaindra adalah berita itu didengar dengan telinga atau dilihat dengan mata dan disentuh dengan kulit, tidak disandarkan pada logika atau akal.
                2. Syarat-Syarat Hadis Mutawatir
 a).  Hadits mutawatir harus di riwayatkan oleh sejumlah besar perawi yang membawa keyakinan bahwa mereka itu tidak sepakat untuk berbohong.
 b).  Bedasarkan tanggapan panca indra, yakni bahwa berita yang mereka sampaikan harus benar-benar merupakan hasil pendengaran atau penglihatan sendiri.  
 c). Seimbang jumlah para perawi.
               3.  Pembagian Hadits Mutawatir
  a). Hadits Mutawatir Lafdhi
Hadits mutawatir lafdhi adalah mutawatir dengan susunan redaksi yang persis sama. Contoh hadits mutawatir lafdhi yang artinya:
“Rasulullah SAW, bersabda: “Siapa yang sengaja berdusta terhadapku, maka hendaklah dia menduduki tempat duduknya dalam neraka”. (Hadis Riwayat Bukhari).
 b). Hadits Mutawatir Maknawi
Hadits mutawatir maknawi adalah hadits mutawatir dengan makna umum yang sama, walaupun berbeda redaksinya dan berbeda perincian maknany. Contoh hadits mutawatir maknawi yang artinya:
“Rasulullah SAW pada waktu berdoa tidak mengangkat kedua tangannya begitu tinggi sehingga terlihat kedua ketiaknya yang putih, kecuali pada waktu berdoa memohon hujan”. (Hadis Riwayat Mutafaq’ Alaihi)


 c).   Hadits Mutawatir ‘Amali
Hadits mutawatir ‘amali adalah hadits mutawatir yang menyangkut perbuatan Rasulullah SAW, yang disaksikan dan ditiru tanpa perbedaan oleh orang banyak, untuk kemudian juga dicontoh dan diperbuat tanpa perbedaan oleh orang banyak pada generasi-generasi berikutnya. Contoh : Hadits-hadits Nabi tentang waktu shalat, tentang jumlah rakaat shalat wajib, adanya shalat ‘ied
                 4. Kedudukan hadis mutawatir
Kedudukan hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam tinggi sekali. Menolak hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam sama halnya dengan menolak kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Kedudukan hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam lebih tinggi dari kedudukan hadis ahad.
                 B.HADIS AHAD
Ahad menurut bahasa adalah kata jamak dari wahid atau ahad. Bila wahid atau ahad berarti satu, maka aahaad, sebagai jamaknya, berarti satu-satu.
 Ahad menurut istilah, yaitu hadits yang para rawinya tidak mencapai jumlah rawi hadist mutawatir, baik rawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima atau seterusnya, tetapi jumlahnya tidak memberi pengertian bahwa hadits dengan jumlah rawi tersebut masuk dalam kelompok hadist mutawatir, atau dengan kata lain Hadits Ahad adalah hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.
                 2.  Pembagian hadits ahad
                    a). Hadits Masyhur (Hadits Mustafidah)
Masyhur menurut bahasa berarti yang sudah tersebar atau yang sudah populer.
Masyhur menurut istilah yaitu, hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih, dan beliau mencapai derajat hadits mutawatir. Sedangkan batasan tersebut, jumlah rawi hadits masyhur (hadits mustafidah) pada setiap tingkatan tidak kurang dari tiga orang, dan bila lebih dari tiga orang, maka jumlah itu belum mencapai jumlah rawi hadits mutawatir. Contoh hadits masyhur (mustafidah) adalah hadits berikut ini, yang artinya:
“Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin tidak mengganggu oleh lidah dan tangannya.” (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim, dan Turmudzi.
                   b. Hadits ‘Aziz
‘Aziz menurut bahasa, berarti yang mulia atau yang kuat dan juga berarti jarang.    
 ‘Aziz menurut bahasa berarti hadits yang mulia atau hadist yang kuat atau hadits yang jarang, karena memang hadits ‘aziz itu jarang adanya. Para ulama memberikan batasan yaitu hadist ‘aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, kendati dua rawi itu pada satu tingkatan saja, dan setelah itu diriwayatkan oleh banyak rawi. Contoh hadits aziz adalah hadits berikut ini, yang artinya:                           
 Rasulullah SAW bersabda: “Kita adalah orang-orang yang                                                     paling akhir (di dunia) dan yang paling terdahulu di hari qiamat.” (Hadist Riwayat Hudzaifah dan Abu Hurairah).
                  c.   Hadits Gharib
Gharib, menurut bahasa berarti jauh, terpisah, atau menyendiri dari yang lain.
 Gharib menurut istilah adalah hadist yang diriwayatkan oleh satu orang rawi (sendirian) pada tingkatan maupun dalam sanad. Dari segi istilah ialah Hadits yang berdiri sendiri seorang perawi di mana saja tingkatan (thabaqah) dari pada beberapa tingkatan sanad.
Contoh hadits gharib itu antara lain adalah hadist berikut, yang artinya:
“Dari Umar bin Khattab, katanya: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Amal itu hanya (dinilai) menurut niat, dan setiap orang hanya (memperoleh) apa yang diniatkannya.” (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lain-lain)
                  3.  Kedudukan
Karena hadits ahad itu tidak pasti (hgairu qath’i atau ghairu maqthu’), tetapi diduga (zhanni atau mazhnun) berasal dari Rasulullah SAW, maka kedudukan hadits ahad, sebagai sumber ajaran Islam, berada dibawah kedudukan hadits mutawatir. Lain berarti bahwa bila suatu hadits, yang termasuk kelompok hadits ahad, bertentangan isinya dengan hadits mutawatir, maka hadits tersebut harus ditolak.
















BAB III
PENUTUP
                      A. kesimpulan
Demikian hadits dilihat dari kuantitas jumlah para perawi yang dapat menunjukkan kualitas bagi hadits mutawatir tanpa memerisa sifat-sifat para perawi secara individu, atau menunjukan kualitas hadits ahad, jika disertai pemeriksaan memenuhi persyaratan standar hadits yang makbul.
Hadits ahad masih memerlukan barbagai persyaratan yaitu dari segi sifat-sifat kepercayaan para perawi atau sifat-sifat yang dapat mempertanggungjawabkan kebenaran berita secara individu yaitu sifat keadilan dan ke dhabithan, ketersambungan sanad dan ketidakganjilannya. Kebenaran berita hadits mutawatir secara absolute dan pasti (qath’i), sedangkan kebenaran berita yang dibawa oleh hadits ahad bersifat relative ( zhanni ) yang wajib diamalkan.
                     B. Saran
Dengan mengetahui beberapa definisi dan penjelasan dari pembagian hadits di atas, di harapkan kita paham dan mengerti, sehingga dalam penentuan hukum dari suatu massalah, yang khususnya dari hadits dapat di peroleh kejelasan yang pasti akan hukum tersebut.







DAFTAR PUSTAKA
Khon, A. M. (2008). Ulumul Hadis. Jakarta: Amzah.
Mudzakir, M. (1998). Ulumul Hadis. Bandung: CV Pustaka Setia.
Rahman, F. (1974). Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Bandung: PT Alma’arif.
Al-Nawawi, I. (2001). Dasar-Dasar Ilmu Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus.

As-Shalih, S. (1997). Membahas Ilmu-Ilmu Hadits. Pustaka Firdaus: Jakarta.