Senin, 26 Oktober 2015

makalah klasifkasi ddc

MAKALAH
Pengantar ilmu perpustakaan
 “klasifikasi DDC”

Dosen : Athiyatul Haqqi, S.Ag, S.IPI,M.I.Kom





Disusun oleh 
 Nuraini
Nim: 1pt131417 

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ADAB-SASTRA DAN KEBUDAYAAN ISLAM
IAIN SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI
TAHUN AKADEMIK 2013/2014



KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini penulis susun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar ilmu perpustakaan. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai “klasifikasi DDC”. Melalui makalah ini penulis berharap agar pembaca dapat memahami masalah pengklasifikasian menggunakan DDC.
Penulis sadar  bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu penulis berharap kepada pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun, sehingga dalam penulisan makalah selanjutnya dapat diperbaiki. Demikian yang dapat penulis sampaikan.


                                                                                  Jambi,Desember  2013

                                                                                              Penulis




  

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR                                     
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang .......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Prinsip-prinsip dasar sistematika DDC ................................................................ 2
B.     Bagan DDC .......................................................................................................... 3
C.     Penggunaan DDC ................................................................................................. 5
D.    Pembentukan notasi .............................................................................................. 6
E.     Indeks relatif ........................................................................................................15
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ............................................................................................. 17
DAFTAR PUATAKA ........................................................................................ 18                   














BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Diantara beberapa sistem klasifikasi, akan di bicarakan salah satu yang banyak dipakai di perpustakaan di berbagai negara, termasuk indonesia yaitu dewey decimal clssificatian  (DDC).
Dewey Decimal classification (DDC) merupakan sistem klasifikasi perpustakaan hasil karya Melvil dewey (1851-1931). Dewey telah merintis sistem klasifikasi ini ketika ia masih menjadi mahasiswa dan berkerja sebagai pustakawan di Amherst College, massachusetts, disebuah negara bagian Amerika serikat.
Karena tuntutan keadaan, terutama sebelum adanya sistem guna menata buku-buku yang dimiliki perpustakaan, dewey berusaha keras menciptakan sistem tersebut. Pada tahun 1876, dewey dapat menerbitkan edisi pertama dengan judul;”Classification and Subject Indek for Cataloguing, and Arranging the Books and Pamphlets of Library”. Edisi pertamaini hanya 42 halaman dan terdiri atas 12 halaman pendahuluan, 12 halaman bagan, dan 18 halaman indeks.
 DDC terdiri dari serangkaian notasi bilangan yang disusun menurut prinsip-prinsip dasar yang telah diuraikan di muka. Seringkali pada bagan tersebut ada beberapa catatan dari petunjuk pemakaian bilangan tersebut. Kecuali bagan lengkap DDC juga memiliki ringkasan-ringkasan yang disebut ringkasan pertama (terdiri dari 10 kelas utama). Ringkasan kedua (terdiri dari 1000 seksi).   
Di samping menyediakan notasi – notasi yang siap pakai, DDC juga memberi kemungkinan untuk membentuk  notasi dengan menggunakan notasi dasar, ditambah dengan notasi tambahan yang tersedia dalam DDC sebagai kelengkapan berumusan Masalah







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Prinsip-prinsip dasar sistematika DDC
Penyusunan sistem klasifikasi Dewey didasarkan pada beberapa prinsip dasar yaitu :
1.      Prinsip dasar desimal
Dewey membagi ilmu pengetahuan menjadi 10 kelas utama. Kemudian masing-masing kelas utama dibagi kedalam 10 divisi dan selanjutnya masing-masing divisi dibagi kedalam 10 seksi. Dengan demikian DDC terdiri dari 10 kelas utama (dinamakan ringkasan pertama), 100 divisi (dinamakan ringkasan kedua) dan 100 divisi (dinamakan ringkasan ketiga).
    Pembagian tersebut masih memungkinkan diadakan pembagian lebih lanjuat dari seksi menjadi sub seksi, dari sub seksi menjadi sub-sub seksi dan seterusnya. Karena pola dasar pembagian ilmu pengetahuan mendasarkan pada kelipatan sepuluh, maka sistem klasifikasi tersebut dinamakan klasifikasi persepuluhan atau klasifikasi desimal. (untuk tabel kesan pertama, kedua, ketiga diberikan pada lampiran agar dapat di pergunakan untuk memberi nomor kelas kepada perpustakaan yang masih  sederhana).
2.      Prinsip dasar susunsn umum-khusus
Dari 10 kelas utama yang pertama (kelas 0) disediakan untuk karya umum yang membahan banyak subjek dan dari berbagai segi pandangan. Kelas utama berikutnya masing-masing mencakup satu jenia ilmu tertentu. Dari 10 divisi dalam tiap kelas utama, divisi pertama (divisi 0) membahas karya umum untuk seluruh kelas,sedang divisi 1-9 membahas hal-hal yang lebih khusus. Dari 10 seksi dalam tiap divisi, sedangkan seksi 1-9 untuk hal-hal yang lebih khusus.
3.      Prinsip dasar disiplin
Penyusunan dan pembagian DDC terutama didasarkan pada lapangan spesialisasi ilmu pengetahuan atau disiplin tertentu dan bukan pada subjek. Suatu subjek dapat dibahas pada beberapa disiplin ilmu, karenanya pembagian menurut subjek adalah sekunder, sedangkan pembagian menurut ilmu adalah primer.
4.      Prinsip dasar hirarsikal
DDC adalah klsifikasi yang hirarsikal baik dalam notasai maupun dalam relasi antar subjek. Hirarsikal dalam notasi bahwa perincian lebih lanjut dari suatu subjek atau disiplin tertentu harus dilakuakan dengan dasar penambahan satu bilangan pada bilangan pada notasi pokoknya, misal:


600  teknologi (notasi pokok adalah 6)
630      ilmu pertanian (notasi pokok adalah 63)
631          teknik pertanian umum
631.1           alat-alat pertanian: bajak, traktir dll
631.5.1            penanaman dan panenan (9,8)
Hirarsikal dalam trelasi antar disiplin ilmu dan subjek berarti bahwa apa yang berlaku dalam suatu kelas, berlaku juga bagi semua seksi-seksi, misal:
625      Teknik perkreta-apian dan jalan raya
            Perencanaan, analisa, pembuatan, berlaku juga bagi perbaikan
625.1    Jalan kereta api
625.2    Lokomotif, gerbong, peralatan kereta api
625.7    Jalan raya, termasuk alat pengatur dan pengaman lalu lintas ( 9,0 ).
            Apabila ada buku tentang “ perbaikan jalan raya “, akan mendapatkan nomor kelas 625.7 walaupun pada nomor tersebut tidak disebutkan “ perbaikan “. Tetapi karena 625.7 adalah sub-seksi dari 625, maka apa yang berlaku pada 625 juga untuk 625.7.
B.     Bagan DDC
Dalam sistem klasifikasini, dewey membagi seluruh bidang ilmu pengetahuan menjadi 9 bidang pengetahuan. Masing – masing bidang diberi simbol berupa angka arab:1 – 9. Karena dalam sistem klasifikasi DDC ini, suatu notasi sekurang – kurangnya terdiri atas 3 buah angka arab, maka dalam pembagian pertama ditambah 00 menjadi 100 – 900. Di samping itu, terdapat suatu bidang yang bersifat umum yang diberi simbol 000, sehingga menjadi 10 bidang. Kesepuluh bidang ini merupakan pengelompokan pertama dalam sistem DDC, dan menjadi kelas utama ( main classes ).
000- karya umum
100- Filsafat
200- Agama
300- Ilmu sosial
400- Bahasa
500- Ilmu murni
600- Ilmu terapan
700- kesenian
800- kesusasteraan
900- sejarah dan geografi


Setiap kelas utama dibagi lagi secara desimal menjadi 10 divisi yang merupakan subordinasi dari kelas utama tersebut. Misalnya, kelas utama 300 (ilmu sosial) dibagi menjadi 10 divisi berikut.
300- Ilmu-Ilmi sosisl
310- Statistik
320- Politik
330- Ekonomi
340- Hukum
350- Administrasi umum
360- Masalah sosial dan pelayanan sosial
370- Pendidikan
380- Perdagangan, komunikasi, dan trnsportasi
390- Adat istiadat, cerita rakyat

Selanjutnya, divisi  dapat dibagi kedalam seksi-seksi secara desimal. Misalnya, divisi 370 (pendidikan) dibagi menjadi 10 seksi berikut.
370- pendidikan
371- faktor-faktor pendidikan
372- pendidikan dasar
373- pendidikan menengah
374- pendidikan dewasa
375- kurikulum
376- pendidikan wanita
377- pendidikan agama
378- pendidikan tinggi
379- pendidikan dan negara

Setiap seksi dapat dibagi lagi menjadi 10 subseksi yang merupakan subordinasi dari seksi. Misalnya, untuk kelas 371 (faktor-faktor pendidikan) dibagi menjadi 10 subseksi sebagai berikut.
371   - faktor-faktor pendidikan
371.1- Mengajar dan pengajar
371.2- Administrasi pendidikan
371.3- Metode belajar dan mengajar
371.4- Bimbingan dan penyuluhan
371.5- disiplin sekolah
371.6- sarana fisik sekolah
371.7- kesehatan dan keselamatan sekolah
371.8- peserta didik (siswa)
371.9- pendidikan khusus

Perlu diingat, jika dalam sistem DDC notasinya melebihi 3 angka, penulisan notasi angkanya menggunakan tanda titik (.) setelah angka ketiga.
Masing-masing subseksi dapat dibagi lagi menjadi 10 bagian yang lebih kecil. Demikian seterusnya sehinggasemakin spesifik suatu subjek akan mendapat notasi yang lebih panjang sesuai hierarki atau tingkat pembagiannya. Notasi-notasi yang telah dikambangkan untuk seluruh bidang pengetahuan telah terdaftar dalam bagan DDC dan merupakan notasi-notasi dasar yang siap digunakan (enuerated)
Disamping menyediakan notasi-notasi yang siap pakai tadi, DDC juga memberi kemungkinan untuk membentuk notasi dengan mengunakan notasi dasar ditambah denagn notasi tambahan yang tersedia dalam DDC sebagai kelengkapan bagan.
Selain bangan yang membuat notasi dasar, DDC juga menyediakan tabel tambahan/tabel pembantu dan indeks subjek. Untuk memberi notasi yang tepat bagi suatu bahan pustaka, Tabel-tabel tambahan ini berisi notasi-notasi tambahan yang penggunaannya tidak berdiri sendiri, melainkan digabung dengan notasi dasar dari bagan klasifikasi DDC.

    Tabel-tabel tersebut adalah:
1.      Tabel subdivisi standar
Notasi dalam tabel ini tidak dapat dipakai tersendiri melainkan digabungkan dengan nomor kelas mana saja dalam bagan, apabila diperlukan. Tabel ini membantu untuk menunjukkan bentuk fisik dan berbagai aspek suatu bahan pustaka.  
2.      Tabel wilayah
Tabel ini membantu untuk mengaitkan suatu subjek yang dibahas dalam suatu bahan pustaka dengan tempat,daerah, wilayah,negara,dan benua tertentu.
3.      Subdivisi kesusastraan
Tabel ini memberi notasi perincian untuk khusus karya sastra.
4.      Subdivisi bahasa
Tabel ini memberi notasi untuk perincian bentuk standar  bahasa.
5.      Tabel ras,etnik,dan kebangsaan
6.      Tabel bahasa
7.      Tabel orang
Sebagai catatan tabel 7 sejak terbit edisi XII tahun 2003 telah ditiadakan dan diintegrasikan dengan tabel 1.
C.    Penggunaan DDC
Kalau kita ingin menggunakan DDC, hendaknya memiliki 3 pokok DDC yaitu: bagan klsifikasi (schedule), tabel-tabel pembantu,dan indeks relatif.
Apabila hasil analisis subjek hanya memerlukan notasi dasar yang siap pakai (enumerated) penentuan notasi dapat dilakukan sebagai berikut.
1.    Kenali bagan klasifikasi dengan baik
a.    Hapalkan ringkasan I, yaitu kelas utama (main clases)-nya.
b.    Kenali denagn baik ringkasan II (divisi).
c.    Pilihlah notasi pada divisi paling sesuai dan priksa perincian dari divisi (seksi-sekai) untuk memilih seksi yang paling sesuai dengan hasil analisis subjek.
d.    Jika diperlukan suaatu notasi yang lebih spesifik, priksa perincian dari seksi (notasi-notasi subseksi), dan pilihlah notasi yang paling sesuai.

2.     Menggunakan indeks relatif bila diperlukan

a.    Priksalah ringkasan dari entri indeks relatif yang digunakan sebagai akses untuk memilih istilah subjek dan notasi yang paling sesuai dengan hasil analisis subjek.
b.    Cek kembali ke dalam bagan klsifikasi,hasil pemilihan notasi melalui indeks relatif tersebut, apakah notasi tersebut merupakan subordinasi dari notasi yang lebih luas cakupannya: jika tidak sesuai berarti keliru dalam memilih notasi melaui indeks (selengkapnya, coba lihat indeks relatif pada buku  klasifikasi DDC).

D.    Pembentukan notasi

Sering suatu subjek dari hasil analisis subjek tidak cukup dicerminkan dengan notasi dasar yang siap pakai ini sebagaimana telah tersedia dalam bagan klasifikasi. Karenanya, perlu pembentukan notasi sesuai dengan sistem klsifikasi DDC. Misalnya, jika suatu subjek mengandung aspek bentuk, apakah bentuk penyajian, bentuk fisik atau intelaktual, aspek bentuk tersebut sedapat mungkin harus diwujudkan dalam notasi.
Dalam sistem klasifikasi DDC, pembentukan notasi dapat dilakukan dengan fasilitas notasi-notasi tambahan sebagaimana yang tercantum dalam tabel-tabel tambahan atau sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalm notasi dasar, yaitu:

Tabel 1: Notasi subdivisi standar
Tabel 2: Notasi wilayah
Tabel 3: Notasi bentuk sastra
Tabel 4: Notasi bentuk bahasa
Tabel 5: Notasi ras, etnis dan kebangsaan
Tabel 6: Notasi bahasa-bahasa sesuai petunjuk yang terdapat dalam bagan DDC

Pada DDC edisi XXII, tabel 7 (kelompok orang) ditiadakan dalam penggunaannya diintegrasikan denagn tabel 1. Cara menggabungkan notasi-notasi tambahan pada notasi dasar dari bagan klasifikasi adalah sebagai berikut.

1.      Tabel 1 notasi subdivisi standar

Notasi bentuk ini diambil dari notasi tambahan subdivisi standar yang secara ringkas meliputi bentuk sebagai berikut.



-01         : filosofi
-02         : bunga rampai
-022       : manual,pedoman,petunjuk
-03         : kamus,ensiklopedi   
-04         : kekhususan
-05         : majalah
-06         : organisasi
-07         : belajar mengajar
-072       : hasil penelitian
-08         : kumpulan
-09         : sejarah

Dalam sistem klasifikasi DDC terdapat 5 cara untuk penggunaan subdivisi standar ini.
a.       Tidak terdapat petunjuk

Adakalanya pada suatu notasi terdapat petunjuk untuk menambahkan notasi subdivisi standar (SS), tetapi kebanyakan notasi tidak disertai petunjuk penggunaannya.

1)      Notasi dasar dengan angka terakhir 0
Jika suatu notasi terakhir dengan angka 0,sebelum ditambahi notasi subdivisi standar (SS), terlebih dahulu angka 0 pada notasi dasar dibuang, kemudian ditambah notasi subdivisi standar yang diperlukan.  
Contoh:
720                     -   arsitektur
-03                      -   kamus notasi (SS)
72 + 03 = 720.3  -   kamus arsitektur

2)      Notasi dasar tanpa angka akhir 0
Notasi dasar yang tanpa angka akhir 0, cukup digabung dengan notasi subdivisi standar (SS) yang diperlukan.
Contoh:
334                         -  koperasi
-05                          -  majalah (notasi SS)
334 + 05= 334.05  -  majalah koperasi

b.      Ada petunjuk penggunaan notasi subdivisi standar

1)      Adakalanya dalam bagan terdapat notasi dasar yang telah tergabung denagn notasi subdivisi standar. Dalam hal ini tidak perlu lagi melakukan penggabungan notasi. Gunakan saja notasi. Yang telah terdaftar dalam  bagan.
   Contoh:
101         - teori filsafat
109         - sejarah filsafat       

2)      Terdaftar sebagian dalam bagan
Jika sebagian notasi dasar telah terdaftar disertai notasi subdivisi standar, gunakan seperti pola yang telah terdaftar apa adanya.
Contoh:
551.1 – geologi,metereologi,hidrologi
551.2 – struktur dan sifat-sifat bumi

2.      Tabel 2 notasi wilayah

Tabel wilayah secara ringkas adalah sebagai berikut.
-4 Eropa
-42        inggris/britania raya
-43        jerman dan sekitarnya
-44        perancis dan monaco
-45        italia
-46        jazirah liberia,spanyol dan portugal
-47 eropa timur dan rusia
-48        scandinavia
-49        bagian eropa lain nya
-5 Asia
-51        cina dan wilayah sekitarnya
-52        jepang dan wilayah sekitarnya
-53        jazirah arab dan wilayah sekitarnya
-54        asia selatan dan india
-55        iran
-56        timur tengah
-57        siberia
-58        asia tengah afganistan
-59        asia tenggara
-591Burma
-593      thailand
-594      laos
-595      malaysia,brunai,singapore
-596      kamboja
-597      vietnam
-598      indonesia
-599      philipina
-6 Afrika
-61        afrika utara,tunisia,libya
-62        mesir dan sudan
-63       afrika barat
-7 amerika utara
-71       canada
-72       amerika tengah,honduras,el salvador,nikaragua,kostarika,kuba,jamaika, 
            Poerto rice,haiti
-73 amerika serikat
-8         amerika selatan
-9         bagian dunia yang lain
-94       australia
-95       papua nugini
-96       polinesia,mikronesia,hawaii
(selengkapnya,lihat pada tabel 2DDC)

Kadang-kadang suatu subjek mempunyai aspek geografis yang perlu dinyatakan dalam notasi. Seperti, “Angkatan laut indonesia” dalam notasi perlu dinyatakan selain notasi dasarnya (Angkatan laut) juga notasi wilayah “indonesia”. Untuk keperluan wilayah ini, DDC mempunyai tabel wilayah (tabel 2) yang mendaftar notasi-notasi wilayah di seluruh dunia.
Notasi wilayah (NW) seperti halnya notasi subdivisi standar (SS) dalam penggunaannya tidak pernah berdiri sendiri, melainkan ditambahkan pada notasi dasar (ND) dengan cara tertentusebagai berikut.

a.       Ada petunjuk penggunaan

Adakalnya suatu notasi disertai petunjuk pengguna NW yang berbunyi “ Add area notations from table 2 to base number ... “ tambahkan notasi wilayah dari tabel 2 pada angka dasar, kadang – kadang didahului “ Geographical Treatment “, dan sebagainya. Seperti :
                                            334, 335, 346
Tambahkan notasi wilayah 3 – 9 dari tabel 2 pada angka dasar. Dalam hal ini, penambahan ND dengan NW  dilakukan dengan mengikuti petunjuk sepenuhnya, seperti:

                Hukum pidana di indonesia 345 + 598 = 345.598

b.      Tidak terdapat petunjuk penggunaan NW

Jika tidak dijumpai penggunaan NW, penambahan Nw pada ND dilakuakn sebagai berikut :
1.      Terlebih dahulu ND ditambah dengan - 09 dari SS
2.      NW ditambahkan pada ND + 09
Contoh : “ Angkatan laut Indonesia “
359                    - Angkatan laut
-09                     - Notasi SS
-598                   - NW Indonesia
359.095.98        - Angkatan Laut Indonesia

c.       Menentukan notasi geografi wilayah
notasi geografi suatu wilayah dapat ditentukan dengan menggunakan NW dari tabel 2 DDC dengan cara sebagai berikut :
1.      Tentukan ND 910
2.      Buang angka terakhir 0
3.      Tambahkan NW yang bersangkutan
Contoh : geografi jepang
910                          - geografi
-52                           - NW jepang dari table 2 DDC
91 + 52 = 915.2      - geografi jepang

d.      Menentukan natasi sejarah dengan NW

Subjek sejarah yang dikaitkan dengan wilayah, dalam DDC mendapatkan notasi 930 – 999, sementara geografi kewilayahan memperoleh notasi 913 – 919. Jika dikaitkan dengan tabel 2 ( NW , erdapat mekanisme yang hampir sama, yaitu ND ditambah dengan NW. Bedanya, dalam pembentukan notasi sejarah suatu wilayah digunakan ND 9 ( 00 ), sedangkan pada pembentukan notasi geografi suatu wilayah, ND-nya adalah 91 (0).
   Bandingkan notasi – notasi di bawah ini :

        Wilayah
         Notasi sejarah
Notasi geografi
Jepang
9(00) + 52 = 952
91(0) + 52 = 915.2
Indonesia
9(00) + 598 = 959.8
91(0) + 598 = 915.98
Inggris
9(00) + 42 = 942
91(0) + 42 = 914.2
    
                  -52, -598, dan -42, masing – masing adalah NW untuk jepang,  indonesia, dan inggris. Pembentukan notasi tersebut perludilakukan apabila dalam bagan belom terdapat notasi geografi maupun sejarah dari suatu wilayah yang bersangkutan.
                   3. tabel 3 notasi bentuk sastra ( NBS )
                   Dalam notasi 800 ( sastra) dikenal notasi – notasi bentuk penyajian sastra ( subdiviision of individual literature ), yaitu :
                   -1     puisi
-2    drama
                   -3    fiksi
                   -4    esai
                   -5    pidato
                   -6    surat – menyurat
                   -7    satire dan humor
                   -8    bunga rampai
                   Notasi bentuk sastra ( NBS ) dalam DDC terdapat dalam tabel 3. Penggunaannya hanya dapat ditambahkan pada ND sastra bahasa yang bersangkutan apabila dalam bagan belom terdapat notasi bentuk sastra dari bahasa yang bersangkutan. Mekanisme pembentukannya adalah : notasi dasar sastra ( NDS ) tanpa angka trakhir 0 + NBS. Seperti :
                   Drama belanda    = sastra belanda + NBS
                   Drama                  = 839.31 + -2  = 839.312
                   Novel belanda      = 839.31 + -3  = 839.313
4.      Tabel 4 notasi subdivisi bahasa ( NSB )
Dalam kelas 4000 ( bahasa ) terdapat notasi – notasi yang disertai notasi – notasi subdivisi bahasa ( NSB ). Secara detail, subdivisi  bahasasebagaimana yang tercantum dalam dalam tabel 4, yaitu :
-1      kode bahasa lisan dan tulis
-2      etimologi
-3      kamus
-4      tata bahasa
-5      prosodi
-6      bahasa tidak baku
-7      bahasa baku
-8      bahasa baku
-9      lain – lainnya
NSB hanya dapat ditambahkan pada ND yang tertera pada bagan DDC yang belum disertai notasi bentuk bahasa. Mekanisme penambahannya adalah dengan cara menambahkan NSB pada ND tanpa angka terakhir 0. Contoh :
Tata bahasa  = ND belanda + NSB
439.31 + -5 = 439.315
Kamus bahasa belanda = 439.31  +  -3 = 439.313
Denagan NSB dapat dibentuk  kamus dwibahasa dan kamus poliglot, yang caranya sebagai berikut :
a.       Kamus dwibahasa : kamus inggris – perancis
ND bahasa ( 4 ) + notasi bahasa I + NSB + notasi bahasa II
                    4 + 2 ( inggris ) + -3 + 4 ( perancis ) = 423.4
b.      Kamus poligot : kamus inggris – perancis – belanda
ND bahasa 41 (0) + NSB kmus =
                    41 + -3 = 413
5.      Tabel 5 notasi ras,bangsa dan kelompok etnik ( NRE )
Garis  besar notasi ras, bangsa dan kelompok etnis adalah sebagai berikut :
-1 ras etnik   Amerika utara
-2                   Anglo saxon, inggris
-3                   Nordies
-4                   Latin modern
-5                   Rumania
-6                   spanyol, portugis
-7                   Italia
-8                   Yunani
-9                   Kelompok lain
                        ( untuk lebih lengkap perinciannya dapat dilihat pada tabel 5 DDC )
                        Adapun cara pembentukan notasinya sebagai berikut :
a.       Terdapat petunjuk

Jika terdapat petunjuk atau instruksi pada ND, ikuti saja sesuai dengan petunjuk.
Contoh : subjek  ethnopsychology of candians
Pada ND 155.84 ethnopsychology, terdapat petunjuk sebagai berikut : Add racial ethnic, national groups 01 – 99 from table  5 to base number 155.84. ( tambahkan ras, etnik, kelompok kebangsaan 01 – 99 dari tabel 5 pada angka dasar 155.84 ).
         Jadi, hasilnya 155.84 + -11 ( ethnic canada ) = 155.841 1

b.      Tidak terdapat petunjuk

Jika tidak terdapat petunjuk pada ND, notasinya dapat dibentuk sebagai berikut: ND + 089 (SS) + NRE
Contoh:
Untuk subjek ceramic arts of bengalis
783 ND ceramic arts
-089            SS untuk ras (dari tabel 1)
-9144          Ras bengalis (dari tabel 5)
Hasilnya = 738.089 914 4 subjek ceramic arst of bengalis

6.      Tabel 6 notasi bahasa-bahasa (NBB)

Garis besar notasi bahasa-bahasa individual adalah:
-1 bahasa indonesia
-2 bahasa ingris
-3 bahasa jerman
-4 bahasa perancis
-5 bahasa italia
-6 bahasa spanyol
-7 bahasa latin
-8 bahasa yunani
-9 bahasa bahasa lain
-91 bahasa sanskerta
-92 bahasa ibrani
-927 bahasa arab
-951 bahasa cina
-952 bahasa jepang
(untuk lebih lengkap lihat pada tabel 6 DDC)

Cara pembentukan notasi:

a.       Terdapat petunjuk
Jika terdapat petunjuk atau instruksi pada ND, ikut saja sesuai dengan petunjuk.
Contoh:
Subjek alquran dengan terjemah dalam bahasa ingris
2X1.2 notasi untuk alquran dan terjemah. Ada petunjuk:
Tambah notasi bahasa dari tabel 6 DDC pada notasi 2X1.2-2 adalah notasi bahasa untuk bahasa ingris jadi, subjek di atas memiliki notasi 2X2.22

b.      Tidak terdapat petunjuk
Jika tidak terdapat petunjuk pada ND, notasinya dapat dibentuk sebagai berikut: ND + -0175 (SS) + NBB
Contoh:
Untuk subjek kitab injil dalam bahasa jerman
200      kitab injil
-0175  notasi SS aspek bahasa (dari tabel 1)
-3        notasi NBB untuk bahasa jerman
Jadi, hasilnya = 220.175 3 kitab injildalam bahasa jerman

7.      Pembentukan notasi dengan petunjuk untuk membagi lebih lanjut

Selain dengan notasi tambahan yang tercantum dalam tabel 1 (subdivisi standar = SS) , tabel 2 (notasi wilayah = NW), tabel 3 (notasi bentuk sastra= NBS), tabel 4 (notasi bentuk bahasa = NBB), tabel 5 (notasi subdivisi bahasa = NSB), tabel 5 (notasi ras,bangsa,dan kelompok etnis = NRE),  dan tabel 6 (notasi bahasa-bahasa = NBB), pembentukan notasi juga dapat dilakukan sesuai petunjuk apabila pada ND, terdapat petunjuk lain untuk mengembangkan/membentuk notasi.

a.       Jika pada ND terdapat petunjuk untuk membagi ND tersebut seperti perincian pada ND yang lain, ikut untuk merinci sesuai petunjuk.

1.1  generalities of secondary education
add to base number 373.1 the numbers following 373 in 373.1- 373.8
1.112  professional qualifications of teachers in sacondary education.
b.  Jika pada ND terdapt petunjuk untuk menambah ND dengan ND yang lain, ikut pembentukan notasinya sesuai petunjuk.
       028.27 Acquisition of materials, ada petunjuk sebagai berikut:
                  Add 001-999 to base number 028.27
       300 social sciences
       028.273 Acquisition material in social sciences
c.     Jika pada ND terdapat petunjuk untuk menambah ND nengan NW dan angka sebagian dari ND yang lain, ikuti pembentukan notasinya sesuai petunjuk.
345                           criminal law
345.3 – 345.9              special jurisdiction and areas, ada petunjuk sebagai berikut :
                                    Add areas notation 3 – 9 to base number 345, then to the result add the numbers following 345 in 345.01 – 345.087
345.06                         evidence
-094                            NW untuk Australia
345.940 6                    law of evidence in australia

E.     Indeks Relatif

1.      Susunan indeks relatif

Salah satu keunggulan DDC adalah tersedianya indeks relaitf. Indeks relatif mendaftar subjek – subjek secara abjad. Setiap subjek juga mencantumkan subjek – subjek terkait, masing – masing mengacu pada notasi yang terdapat dalam DDC. Bentuk masing – masing indeks subjek DDC dalam bahasa indonesia seperti pada contoh berikut :

Psikologi                     150
Abnormal               157
Anak                      155.4
Pendidikan             370.15
Perbandingan         156
Populer                   131
Remaja                   155.5
Seks                       155.3
Terapan                  158
Psikoterapi                 
Psikiatri                  616.8
Puasa
Islam                      2 X 2.13
Kristen                   263
Resep
Masakan                 641.5
Obat                       615

2.      Penggunaan Indeks Relatif

Volume IV DDC merupakan tabel yang berisi Indeks Relatif dari notasi – notasi yang tercantum dalam volume II ( 000 – 599 ), volume III ( 600 – 999 ) dan tabel – tabel pembantu ( pada volume I ). Indeks Relatif bermanfaat bagi para petugas klasifikasi untuk membantu dalam menempatkan subjek pada notasi yang paling sesuai.
a.       Gunakan  istilah subjek untuk menelusuri jenis subjek sesuai hasil analisis subjek.
b.      Apabila dalam indeks, istilah  subjek dikaitkan dengan istilah – istilah subjek yang lain, pilih istilah subjek yang sesuai dengan disiplin yang dibahas dalam buku klasifikasi.
c.       Apabila notasi telah dipilih, periksa kembali kedala


BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan

Dewey Decimal classification (DDC) merupakan sistem klasifikasi perpustakaan hasil karya Melvil dewey (1851-1931). Dewey telah merintis sistem klasifikasi ini ketika ia masih menjadi mahasiswa dan berkerja sebagai pustakawan di Amherst College, massachusetts, disebuah negara bagian Amerika serikat.
Prinsip-prinsip dasar sistematika DDC ada 4 prinsip yaitu:
1.      prinsip dasar desimal
2.      prinsip dasar umum-khusus
3.      prinsip dasar disiplin
4.      prinsip dasar hirarsikal

Dalam sistem klasifikasini, dewey membagi seluruh bidang ilmu pengetahuan menjadi 9 bidang pengetahuan. Masing–masing bidang diberi simbol berupa angka arab:1–9
Kalau kita ingin menggunakan DDC, hendaknya memiliki 3 pokok DDC yaitu: bagan klsifikasi (schedule), tabel-tabel pembantu,dan indeks relatif.
 Sering suatu subjek dari hasil analisis subjek tidak cukup dicerminkan dengan notasi dasar yang siap pakai ini sebagaimana telah tersedia dalam bagan klasifikasi. Karenanya, perlu pembentukan notasi sesuai dengan sistem klsifikasi DDC. Misalnya, jika suatu subjek mengandung aspek bentuk, apakah bentuk penyajian, bentuk fisik atau intelaktual, aspek bentuk tersebut sedapat mungkin harus diwujudkan dalam notasi.
 Salah satu keunggulan DDC adalah tersedianya indeks relaitf. Indeks relatif mendaftar subjek – subjek secara abjad. Setiap subjek juga mencantumkan subjek – subjek terkait, masing – masing mengacu pada notasi yang terdapat dalam DDC.

  

DAFTAR PUSTAKA
Suharyati (2008). Pengantar dasar ilmu perpustakaan. Surakarta : Lembaga pengembangan    pendidikan (LPP) UNS dan UPT penerbitan dan pencetakan UNS (UNS press).
Suwarno,Wiji (2010).pengetahuan dasar kepustakaan. Bogor : Ghalia indonesia.

Suwarno,Wiji (2007).dasar-dasar ilmu perpustakaan. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media

Tidak ada komentar:

Posting Komentar