MAKALAH
ISLAM
DAN PERADABAN MELAYU
“
kelompok melayu jambi “
Dosen
pengampuh: Nirwan II yasin, M.hum
Disusun
oleh :
Nuraini
Uswatu
hasana
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS
ADAB DAN HUMANIORA
IAIN
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI
TAHUN
AJARAN 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillahirabbilalamin,
banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala
puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat,
rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”kelompok melayu jambi”.
Dalam
penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena
itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang
tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, kasih,
dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah
yang lebih baik lagi.
Makalah
ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah islam dan peradaban
melayu, dan untuk menjadi bahan diskusi kelompok, penullis berharap mekalah
inidapat membantu dalam proses pembelajaran pada matakuliah islam dan peradaban
melayu.
Meskipun
penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,
namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Wassalamua’laikum
wr.wb.
Jambi,
Desember 2014
penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR......................................................................................................... i
DAFTAR
ISI........................................................................................................................ ii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang......................................................................................................... 1
B.
Rumusan masalah.................................................................................................... 1
C.
Tujuan...................................................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN
A.
kebudayaan melayu jambi....................................................................................... 2
B.
Mata pencarian masyarakat melayu jambi ..............................................................2
C.
kerajinan masyarakat melayu jambi.........................................................................3
D.
kesenian masyarakat melayu jambi..........................................................................4
E.
Dinamika keagamaan masyarakat melayu jambi......................................................6
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................................... 8
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................................... 9
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar belakang
Sejak ratusan tahun lalu provinsi
jambi dihuni oleh etnis melayu, seperti suku Kerinci, Suku Batin, suku Bangsa
Dua Belas, suku Penghulu, dan suku Anak dalam. Namun juga ada etnis pendatang.
Perjalanan sejarah yang dialami etnis melayu telah melatar belakangi budaya
melayu di Jambi.
Setiap kebudayaan itu bersifat
dinamis akan perubahan bahkan mungkin hilang sama sekali. Penyebabnya
adalah perkembangan kebudayaan, pengaruh budaya luar, kurangnya kesadaran
masyarakat, dan lemahnya jiwa kebudayaan para remaja sebagai generasi penerus
nilai-nilai kebudayaan bahkan itu mungkin dan telah terjadi di provinsi jambi.
Dalam penulisan makalah ini kami
akan membahas tentang kebudayaan melayu Jambi yang dibatasi pada unsur budaya,
mata pencaharian, kerajinandan seni masyarakat melayu Jambi. Setidaknya dapat
memberikan gambaran tentangkebudayaan melayu Jambi.
- Rumusan
masalah
- Bagaimana
kebudayaan melayu jambi ?
- Bagaimana
mata pencarian masyarakat melayu jambi ?
- Bagaimana
kerajian masyarakat melayu jambi ?
- Bagaiman
kesenian masyarakat melayu jambi ?
- Bagaimana
dinamika keagamaan masyarakat melayu jambi ?
- Tujuan
- Mengetahui bagaimana kebudayaan melayu
jambi
- Mengetahui
apa mata pencarian masyarakat
melayu jambi
- Mengetahui kerajian masyarakat melayu jambi
- Mengetahui kesenian masyarakat melayu jambi
- Mengetahui
dinamika keagamaan masyarakat melayu jambi
BAB
II
PEMBAHASAN
- Kebudayaan
melayu jambi
Jauh sebelum abad masehi etnis
melayu setelah mengembangkan suatu corak kebudayaan melayu pra sejarah di
wilayah pengunungan dan dataran tinggi. Masyarakat pendukung kebudayaan melayu
pra sejarah adalah suku Kerinci dan suku Batin. Orang kerinci di perkirakan
telah menepati caldera danau kerinci sekitar tahun 10.000 SM sampai tahun 2000
SM. Suku Kerinci dan termasuk juga suku Batin adalah suku tertua di Sumatera.
Mereka telah mengembangkan kebudayaan batu seperti kebudayaan Neolitikum.
Kehadiran agama budha sekitar abad 4
M telah mendorong lahir dan berkembangnya suatu corak kebudayaan buddhis.
Kebudayaan ini di identifikasikan sebagai corak kebudayaan melayu kuno.
Masyarakat pendukung kebudayaan melayu buddis yang masih ada di Jambi adalah
suku anak dalam (kubu). Namun peningalan momental kebudayaan melayu Buddishis
adalah bangunan candi-candi yang tersebar dikawasan daerah aliran sungai (DAS)
batanghari, salah satu di antaranya ialah situs candi muara Jambi. Pada masa
kebudayaan buddhis sedang mengalami kemunduran sekitar abad 11-14 M, maka
bersamaan waktunya di daerah jambi mulai berkembang suatu corak
kebudayaan islam.
Kehadiran Islam diperkirakan pada
abad 7 M dan sekitar abad 11M Islam mulai menyebar ke seluruh lapisan
masyarakat pedalaman Jambi. Dalam penyebaran Islam ini maka pulau berhala
dipandang sebagai pulau yang sangat penting dalam sejarah Islam di Jambi.
Karena sejarah mencatat bahwa dari pulau berhala itulah agama Islam disebarkan
keseluruh pelosok daerah Jambi. Kehadiran Islam ini membawa perubahan mendasar
bagi kehidupan social/ masyarakat melayu Jambi. Agama Islam pelan-pelan tapi
pasti, mulai mengeser kebudayaan melayu buddhis sampai berkembangnya corak
kebudayaan melayu Islam.
Kebudayaan daerah tidak lain adalah
kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat lokal sebagai
pendukungnya. Sedangkan yang dimaksud dengan kebudayaan melayu jambi adalah
kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah etnis melayu Jambi.
- Mata pencarian masyarakat melayu jambi
Mata pencaharian masyarakat Jambi adalah bertani,
berjualan, panen getah dan melaut Di Jambi sendiri kebanyakan daerahnya adalah
berupa hutan. Sehingga mata pencaharian mereka di dominasi oleh para petani
biasanya pula mereka yang bertani berasal dari pedesaan. Dalam hal bertani,
sama seperti kota-kota lainnya yang terletak di daratan rendah, adalah bertanam
padi pada lahan kosong. Sedangkan dalam hal melaut, mencari ikan di sungai
merupakan mata pencaharian tambahan, begitu juga mencari dalam hal mencari
hasil hutan.
Usaha-usaha tambahan ini biasanya
dilakukan sambil menunggu panen atau menunggu musim tanam berikutnya. Karena di
Jambi sendiri juga dihuni oleh masyarakat keturunan TiongHua, maka di zaman
sekarang ini banyak pula warga masyarakat kaeturunan Cina di Jambi yang mencari
pendapatan melalui proses berdagang. Ada yang berdagang mas, berdagang sembako
dan adapula yang berdagang bahan-bahan material.
Orang jambi tradisional menamai tempat mereka bertani
diantaranya adalah:
- Sawah terdapat tiga model sawah yaitu:
§ Sawah payau
Adalah sawah yang dibuat di atas
sebidang tanah yang secara alamiah telah mendapat air dari suatu sumber air,
atau tanahnya sendiri telah mengandung air
§ Sawah tadah hujan
Adalah sebidang tanah kering yang
diolah dengan mengunakan cangkul atau bajak yang diberi galangan atau pematang
sedangkan pengairannya sangat tergantung pada hujan
§ Sawah irigasi
Adalah sejenis tanah yang digarap
dengan sistem irigasi, tanah ini diolah dengan cara memakai sumber air dari
mata air atau sungai.
- Ladang ada dua macam ladang yaitu:
§ Umo renah
Adalah ladang yang cukup luas yang
terbentang pada sebidang tanah yang subur dan rata. Tanah tersebut terdapat di
pingir-pingir sungai dan dilereng-lereng bukit yang mendatar.
§ Umo talang
Adalah ladang yang dibuat orang di
dalam hutan belukar yang letaknya jauh dari pedesaan, dan biasanya pada umo
talang orang akan membuat pondok yang biasa digunakan untuk menungu panen tiba.
Ternyata dalam mereka melakukan hal
dalam mata pencaharian ada adat istiadat yang digunakan, contoh dalam anak
undang nan dua belas terdapat ayat yang menyatakan seperti ini, “umo
berkandang siang, ternak berkandang malam”.
Sedangkan penduduk daerah jambi
terutama yang bermukim di sepanjang bantalan sungai batanghari dan anak
sungainya agaknya memahami benar bahwa air itu adalah sumber kehidupan. Sehinga
umumnya penduduk ini bermata pencaharian sebagai nelayan oleh karena itu
dikenal perkampungan nelayan adalah perkampungan yang berada di pingir pantai
dan di pingir sungai batanghari. Oleh karena itu, hampir setiap rumah penduduk
di daerah ini memiliki alat penangkapan ikan tradisional yang dikenal dengan:
tanguk, sauk, jalo, mentaben, guntang, geruguh, lukah, serkap, jelujur, onak,
saruo, tamban, rawai, tiruk, lulung, pukat hanyut, lenggian, sangkar ikan. Yang
pada umumnya di buat sendiri dengan mengunakan bahan-bahan yang tersedia dengan
cara dan bentuk yang tradisional.
- Kerajinan
masyarakat melayu jambi
Provinsi Jambi sangat kaya akan
kerajinan daerah, salah satu bentuk kerajinan daerahnya adalah:
1. Anyaman
Anyaman
yang berkembang dalam bentuk aneka ragam. Kerajinan anyaman di buat dari daun
pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun
nipah, dan daun rumbia. Hasil anyaman ini bermacam–macam, mulai dari bakul,
sumpit, ambung, katang–katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji,
tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut Sempirai, Pangilo, lukah dan
sebagainya.
2. Tenun dan batik motif flora
Tenun
dntenun yang sangat terkenal, yaitu tenunan dan batik motif flora. Batik biasa
kita tau kebanyakan berasal dari pulau Jawa. Namun sesungguhnya seni batik itu
tak hanya berada di pu
lau
Jawa saja, beberapa daerah di Sumatera pun juga memiliki seni batik tersendiri.
Ini terbukti banyaknya hasil batik yang di hasilkan dari Jambi, baik buatan
pabrik maupun produksi rumah tangga. Produk batik dapat berkembang hingga
sampai pada suatu tingkatan yang membanggakan baik desain maupun prosesnya.
Begitu pula dengan batik yang ada tumbuh dan berkembang di daerah Jambi.
3. Ukir kayu betung
Merupakan
kerajinan ukir kayu yang terdapat di Desa Betung. Kabupaten Batanghari. Para
pengrajin memanfaatkan produk kayu hutan yang banyak terdapat di Jambi. Jenis
kayu yang banyak dipakai sebagai bahan baku adalah rengas, meranti dan
jelutung. Sebagian besar produknya untuk perabot rumah tangga seperti meja,
kursi dan tempat tidur.
- kesenian masyarakat
melayu jambi
1.
seni
tari
Seni tari daerah Jambi cukup banyak
ragam serta coraknya, dimana pada tiap-tiap daerah mempunyai ciri sesuai dengan
keadaan daerah serta suku dalam kelompok masyarakat adat yang bersangkutan.
Dari sekian banyak corak dan ragamnya seni tari daerah Jambi, namun sudah
banyak pula yang hampir tidak dikenal bahkan dilupakan oleh lingkungan
masyarakat yang bersangkutan. Beberapa seni tari yang dikenal di Provinsi
Jambi, yaitu:
§ Tari Sekapur Sirih
§ Tari Piring Jambi
§ Tari Baselan
§ Tari Inai
§ tari rentak kudo dll.
2. Seni musik dan teater
§ kelintang kayu
merupakan
alat musik pukul khas Provinsi Jambi yang terbuat dari kayu. Dalam memainkannya
beriringan dengan alat musik talempong, gendang dan akordion. Pada zaman
jayanya alat musik ini dimainkan untuk kalangan bangsawan. Dalam pertunjukannya
didendangkan syair lagu-lagu betuah dan tarian khas Jambi.
§ Hadrah
Merupakan
jenis kesenian jambi yang bernuansa islami, kesenian ini mengunakan terbang
atau rebana sebagai alat musiknya. Alat-alat tersebut ditabuh dan disertai
nyanyian dalam bahasa Arab, hadrah sering digunakan untuk mengiringi pengantin
pria, menyambut tamu dan acara-acara agama islam.
§ Dul muluk
Merupakan
seni teater yang berkembang di kota Jambi dan Batanghari. Kesenian ini sudah
jarang ditampilkan. Sumber cerita berasal dari sahibul hikayat, satu kekhasan
dari pertunjukan ini adalah pada bagian tengah pangung ditempatkan satu meja.
Para
pelakon beradegan setelah pelakon berdialog atau bernyanyi, mereka memukul meja
dengan mengunakan sebatang tongkat seiring irama musik. Pada bagian tertentu
ada tarian yang mengikutsertakan penonton sehinga membuat suasana semakin
meriah.
§ Krinok
Adalah
pepatah petitih yang isinya berupa pantun nasehat,agama, kasih sayang
kepahlawanan dan lain-lain. Dibawakan oleh seseorang dengan cara bersenandung,
sedangkan musiknya pada awalnya hanya mengunakan vocal yang dilakukan oleh si
pengkrinok (orang yang bersenandung). Oleh masyarakat petani ladang/petani
sawah yang umumnya berdomisili di daerah dataran rendah,kesenian rakyat (musik
krinok) ini biasanya dilakukan setelah mereka usai menjalankan aktivitas
pertaniannya. Dimaksudkan untuk mengatasi kejenuhan, pelepas lelah atau sebagai
pelipur lara. Disamping itu sering juga dilaksanakan pada saat menunggu hasil
panen, sambil menjaga tanaman mereka dari serangan burung, tikus, babi, dan
lain-lain. Bila sudah tiba saatnya panen biasanya pada malam harinya mereka
mengadakan pertemuan di suatu tempat yang telah ditentukan untuk melangsungkan
acara krinok-an. Acara ini akan dihadiri oleh ibu-ibu dengan membawa anak
gadisnya, juga dihadiri oleh sejumlah anak-anak bujang, selama acara
berlangsung, bujang/gadis saling melempar pantun. Pantun-pantun tersebut
diungkapkan secara bersenandung yang disebut krinok. Tradisi semacam ini sampai
sekarang masih dilakukan oleh masyakat setempat, seperti yang penuh diamati di
Dusun Rantau Pandan yang jaraknya lebih kurang 40 km dari pusat kota Muoro
Bungo.
3. Seni Sastra
Salah satu seni sastra yang berkembang di Jambi yaitu sastra
Lisan Kerinci. Seni ini berkembang dalam budaya masyarakat kerinci.
Bentuk-bentuknya antara lain puisi, pantun, prosa, prossa liris dan
kunaung-kunaung adalah merupakan perpaduan cerita lagu dan ekspresi
penceritanya. Pada umumnya cerita berisi nasihat, pendidikan moral, petuah,
kisah-kisah rakyat dan pelipur lara.
- Dinamika keagamaan masyarakat melayu jambi
Bagi
masyarakat Melayu Jambi, adat mereka adalah Islam. Islam dan adat adalah dua
hal yang tidak terpisah. Sebuah seloko yang sering diulang-ulang adalah “adat
bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah, syara’ mengato adat memakai”. Seloko ini berarti bahwa adat atau kebiasaan
masyarakat Melayu Jambi didasarkan pada syariat yang berasal dari kitab suci;
apa yang dititahkan syariat, akan dipakai oleh adat.
Kuatnya
Islam dipegang oleh masyarakat Melayu Jambi membawa implikasi antara lain
penolakan masyarakat Jambi terhadap hal-hal yang mereka anggap bukan Islam.
Masyarakat Jambi misalnya memotong sejarahnya dan mengambil kedatangan Islam
sebagai tonggak bermula. islamisasi di
mana pun tidak pernah berjalan sangat mulus. Kalaupun bukan gelombang,
riak-riak kecil mewarnai prosesnya. Di dalam masyarakat Melayu Jambi, cerita
tentang riak itu tidak pernah di munculkan karena merupakan bagian dari masa
lalu yang bukan Islam, yang justru ingin mereka hilangkan.
Selepas
Reformasi bergulir, terjadi kebangkitan adat di banyak tempat di Indonesia.
Jambi juga tidak lepas dari fenomena itu. Kesultanan Jambi yang sudah lama
jatuh sekarang dihidupkan lagi, muncul organisasi-organisasi yang secara
eksklusif menamakan diri Melayu, termasuk lembaga adat yang semula bernama
Lembaga Adat Propinsi Jambi berubah menjadi Lembaga Adat Melayu Jambi,
perubahan desa menjadi rio,
dan muncul peraturan daerah yang mengatur kebudayaan Melayu secara khusus.
Seorang pegiat kebudayaan di Jambi mengatakan bahwa terjadi “orientasi Melayu”
dalam banyak peraturan daerah yang diterbitkan. Padahal, masyarakat Jambi
sekarang tidak hanya terdiri atas etnis Melayu, tetapi multietnis. Kebangkitan
adat ini tentu saja mengabaikan keragaman etnis yang ada di Jambi. Beberapa
kabupaten yang didominasi oleh etnis lain, seperti Kerinci serta Tanjung Jabung
Barat dan Timur, seolah keluar dari aturan yang ada.
David
Henley dan Jamie Davidson (2010: 5-7) menyebutkan bahwa kebangkitan gerakan
masyarakat adat sering dimaksudkan sebagai “upaya mempertahankan keberagaman
budaya”. Dalam konteks Indonesia, tentu saja ini karena selama lebih dari 30
tahun keragaman budaya tidak mendapat tempat dan terjadi penyeragaman dalam
pengelolaan negara. Kalau sebelumnya desa di berbagai daerah di Indonesia
disebut dengan banyak nama, yang struktur adat juga ada dalam penamaan itu,
setelah UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan UU No.
5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, kelembagaan tradisional yang berfungsi
dalam pengurusan daerah itu menjadi rusak. Ketika keran desentralisasi dibuka
pasca-Reformasi, yang beragam itu berusaha dimunculkan kembali. Sayangnya,
terutama dalam konteks Jambi, apa yang disebut “upaya mempertahankan
keberagaman budaya” itu juga jatuh pada penyeragaman dan mengabaikan pluralitas
yang ada di tingkat lokal.
Setelah
Reformasi pula, muncul kelompok-kelompok agama yang oleh beberapa sarjana
dikatakan sebagai gerakan transnasional. Di Jambi perkembangan gerakan ini
cukup massif terutama di kampus umum seperti Universitas Jambi. Di tingkat
masyarakat, gerakan ini berkembang juga disumbang oleh karakter masyarakat
Melayu Jambi yang agamis, yang dalam beberapa tahun belakangan lembaga
pendidikan keagamaannya banyak tutup karena kebijakan pemerintah. Tawaran
lembaga pendidikan gerakan baru ini kemudian banyak disambut oleh masyarakat
yang butuh baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Kehadiran gerakan ini
belakangan menimbulkan gesekan-gesekan dengan kalangan adat. Kalau masyarakat
Melayu Jambi mengklaim adatnya adalah Islam, bagi kelompok ini keislaman mereka
dianggap tidak Islam yang sebenarnya. Karena Islam adat bukan yang semestinya,
gerakan ini menolak praktik-praktik adat yang ditampilkan masyarakat Melayu
Jambi, seperti dalam perkawinan. Mereka lalu menampilkan Islam secara berbeda,
dengan jilbab panjang, berbicara dengan beberapa istilah dalam bahasa Arab,
cenderung tertutup, dan hanya peduli dengan sesama mereka. Tampilan eksklusif
Islam inilah yang mereka klaim sebagai Islam yang benar sebagaimana yang dipraktikkan
Nabi di masa lalu.
Sampai
di sini kita melihat bahwa dalam konteks masyarakat Jambi, Melayu—dan dengan
demikian Islam—telah ditafsirkan dan maknanya ditarik ke sana-kemari. Bagi
kalangan adat, Melayu adalah Islam, tapi keislaman Melayu oleh sebuah gerakan
transnasional dianggap bukanlah Islam yang sesungguhnya. Mereka kemudian
membuat representasi Islam yang benar itu. Problemnya adalah baik oleh kalangan
adat maupun penentangnya, Islam yang ditampilkan adalah yang tak ramah terhadap
perbedaan dan ekspresi kebudayaan lain. Demikian pula, kebangkitan adat atau
Melayu juga cenderung mengabaikan keberagaman.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Jambi adalah salah satu suku di
Indonesia yang terletak di kepulauan Sumatra. Banyak yang tidak mengetahui
bahwa Jambi juga mempunyai banyak hal-hal menarik yang dapat dijadikan ”berita
utama”, tetapi amat disayangkan bahwa yang sering sekali di ekplorasi adalah wilayah-wilayah
tetangganya; seperti Sumatra Barat (Padang) dan Sumatra Utara (Batak).
Provinsi Jambi yang memiliki
penghuni berlatar Melayu. Memilki kebudayaan yang sangat khas. Merupakan
pengaruhnya adalah latar belakang sejarah jambi itu sendiri. Ada berbagai unsur
kebudayaan yang dirasa perlu untuk dilestarikan. Sebagai bentuk kesadaran akan
kebudayaan yang ada pada tanah air kita, agar dapat bersaing dengan kebudayaan
luar.
Kebudayaan melayu jambi berisikan
perpaduan antara unsur budaya melayu jambi antara lain animisme dan dinamisme,
melayu buddhis dan unsur budaya melayu Islam. Namun tidak menghilangkan
ciri-ciri asli.
Bagi
masyarakat Melayu Jambi, adat mereka adalah Islam. Islam dan adat adalah dua
hal yang tidak terpisah. Sebuah seloko yang sering diulang-ulang adalah “adat
bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah, syara’ mengato adat memakai”. Seloko ini berarti bahwa adat atau kebiasaan
masyarakat Melayu Jambi didasarkan pada syariat yang berasal dari kitab suci;
apa yang dititahkan syariat, akan dipakai oleh adat.
DAFTAR
PUSTAKA
Fachruddin
Saudagar.2003. Potensi Budaya Melayu Jambi Dalam Pengelolaan Sumber
Daya Perikanan.Jambi: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi.
Mengenal Adat Jambi Dalan Perspektif Modern” Penulis: H.Kemas
Arsyad Somad, SH.MH Tahun 2003.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar