Kamis, 18 Desember 2014

evaluasi sumber tercetak dan elektronik

MAKALAH
KOMUNIKASI DAN SUMBER INFORMASI
Evaluasi sumber informasi tercetak dan elektronik
Dosen Pengampu :
M. Rizal Pahlefi, S.IP., M.IP.


Kelas : IPT 3C
Disusun oleh kelompok 9 :
Nuraini
M. Zainuddin
Rozalia

PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI

TAHUN 2014/2015

KATA PENGANTAR



Assalamualaikum wr.wb.

Puji syukur penulis panjatkan kepada allah SWT. Yang telah memberikan penulis nikmat sehat, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Dan penulis ucapkan terima kasih kepada dosen pengampuh mata kuliah Komunikasi dan sumber informasi yaitu M. Rizal Pahlefi,S.IP.,M.IP. yang telah memberikan saya kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini penulis buat untuk memenuhi tugas mata kuliah, sekaligus menjadi bahan untuk diskusi kelompok, penulis berharap semoga makalah ini dapat membantu dalam peroses perkuliahan. 
Penulis sadar dalam pembuatan makalah ini bnyak terdapat kekurangan di sana sini. dari itu penulis mohon kritik dan saranya dari teman-teman dan dosen pengampuh mata kuliah komunikasi dan sumber informasi, guna untuk perbaikan makalah penulis selanjutnya.

Wassalamualikum wr.wb.



  Jambi,   Desember 2014


Penulis











DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR........................................................................................................ i

DAFTAR ISI........................................................................................................................ ii

BAB   I    PENDAHULUAN

A. Latar belakang...................................................................................................... 1

B. Rumusan masalah.................................................................................................. 1

C. Tujuan................................................................................................................... 2

BAB  II  PEMBAHASAN

A. Sumber informasi.................................................................................................. 3

B. Mengevaliasi sumber informasi............................................................................. 4

C. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi sumber tercetak ................ 7

D. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi sumber dari internet.......... 8
E. Kriteria dalam melakukan evaluasi........................................................................ 8
F. Hambatan dalam mengevaluasi sumber................................................................. 9

BAB  III PENUTUP

            Kesimpulan................................................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 11



BABI
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pada saat ini membawa dampak bagi pesatnya perkembangan informasi yang beredar di dunia. Hal ini didukung oleh pesatnya perkembangan pemanfaatan internet sebagai media dimana saat ini berbagai informasi dapat ditemukan di internet. Perkembangan pengguna internet sendiri mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Perpustakaan sebagai lembaga yang menjadi pusat informasi mau tidak mau harus dapat menghadapi kenyataan ‘banjir’ informasi di era yang kita kenal sebagai era informasi ini. Jutaan dan bahkan milyaran informasi yang ada harus mampu dikelola dan dimanfaatkan dengan baik.  Namun disisi lain, pengguna juga harus pintar dalam memilah dan menemukan informasi yang berada dalam belantara yang seolah tidak bertepi. Berbagai isu terkait bagaimana menemukan informasi yang tepat menjadi isu penting pada masa sekarang ini. Pengguna harus mempunyai strategi jitu untuk menemukan informasi yang diinginkan dan sesuai dengan kebutuhan serta mampu dipertanggungjawabkan secara kualitas. Hal ini disebabkan tidak semua informasi yang ada dapat diambil sebagai informasi yang’berguna’ atau ‘valid’.

B.     Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan sumber informasi ?
2.      Bagaiman cara mengevaluasi sumber informasi ?
3.      Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi sumber tercetak ?
4.      Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi sumber dari internet ?


C.    Tujuan

1.      Mengetahui apa yang dimaksud sumber informasi.
2.      Mengetahui cara mengevaluasi sumber informasi.
3.      Mengetahui hal-hal yang perlu di perhatikan dalam mengevaluasi sumber tercetak.
4.      Mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi sumber  dari internet.

























BAB II
PEMBAHASAN

A.     Sumber informasi
Dalam dunia akademis, jenis informasi primer bergantung pada disiplin keilmuan yang diimani seseorang. Misalnya sebuah artikel di majalah yang melaporkan pengurangan konsumsi energi dengan menggunakan lampu neon compact, dapat digolongkan pada sumber sekunder, sedangkan artikel riset tentang neon jenis ini adalah sumber primer. Namun jika kita mengkaji bagaimana lampu neon disajikan di media populer, artikel itu dianggap sebagai sumber primer.
Dengan kata lain, sumber primer itu orisinil, tanpa disaring, ditafsir atau dievaluasi terlebih dahulu. Sumber ini selalu muncul sebagai dokumen tercetak atau elektronik, berisi pemikiran orisinal, laporan tentang penemuan, atau informasi baru. Batasan ini bergantung pada disiplin ilmu atau konteksnya. Beberapa contoh diantaranya, akte kelahiran, surat nikah, artefak seperti uang logam, spesimen tanaman, fosil, lukisan, patung, surat, dll.
Sumber sekunder lebih sulit diidentifikasi dibanding sumber primer. Sumber ini menyediakan informasi yang diproses dengan bahan sumber primer. Dengan kata lain sumber versi tangan kedua. Pada umumnya sumber ini berupa laporan tertulis setelah adanya fakta dan manfaatnya, berupa tafsiran dari sumber primer, misalnya sumber sekonder berupa buku  akutansi yang memuat faktur yang diterima, pernyatan bank tentang rinci cek yang dibayarkan. Sumber sekonder bukanlah bukti, melainkan komentar dan diskusi tentang bukti. Ketika informasi statistik dikumpulkan, seperti dalam survey, data survei adalah sumber primer dan kesimpulan survey merupakan sumber sekonder.
Namun, informasi yang telah didifinisikan sumber sekonder, orang lain menganggapnya sebagai sumber tersier. Sekali lagi, bergantung konteks. Contohnya adalah bibliografi (juga dianggap sebagai sumber tersier), karya biografi, komentar, atau kritik. Kamus dan ensiklopedia juga dianggap tersier. Sumber tersier berisi informasi hasil pemampatan dan pengumpulan sumber primer dan sekonder. Misalnya Almanak, bibliografi, direktori, buku panduan, indeks abstrak, buku ajar, dsb. Sumber-sumber tersebut di atas perlu kita lihat untuk merumuskan sebuah pertanyaan riset dalam karya tulis ilmiah.

B.     Mengevaluasi sumber informasi
Dalam hal ini konten informasi pada umumnya berasal dari bahan yang diterbitkan, data dari lembaga riset dan pelayanan statistik pemerintah, juga dari informasi elektornik yang diperoleh dari pelayanan online, memainkan peran penting dalam penyusunan kemas ulang informasi. Untuk mempersiapkannya dokumen-dokumen yang relevan dengan topik dikumpulkan untuk dianalisis dan disintesakan, kemudian dikemas dalam media penyampaian yang tepat. Tidak jarang kita  mengunduh informasi berbasis Web yang menyesatkan, meskipun telah  membacanya.  Karena begitu cepat dan banyaknya informasi yang kita dapatkan, banyak informasi relevan terlewatkan begitu saja, sementara temuan yang kita kita peroleh belum tentu dapat dipercaya. Tentunya para anggota komunitas keilmuan itu memahami disiplin ilmu yang diimaninya, dan tidak bergitu saja sumber informasi yang diperolehnya.
Mereka mengevaluasi sumber informasi berbasis web untuk menditeksi informasi yang menyesatkan. Karenanya,  kita perlu mengembangkan ketrampilan mengevaluasi informasi yang kita dapatkan ketika menelusur di perpustakaan, walaupun buku, jurnal dan sumber lain yang telah dievaluasi oleh ilmuwan, penerbit, dan pustakawan. Setiap sumber yang kita dapatkan telah dievaluasi sebelum kita melihatnya. Menurut  Fitzgerald (1999), mengevaluasi informasi adalah menilai kualitas gagasan, dan erat kaitannya dengan pemikiran kritis yang mengkaji literatur tentang pemikiran kritis memberikan kontribusi cukup penting untuk pemahaman sifat evaluasi.
 Banyak perpustakaan menyelenggarakan kursus singkat literasi informasi yang mencakup evaluasi terhadap temuan penelusuran bagi para mahasiswa kita bisa melihat di situs universitas seperti Online Research Education di Universitas Purdue (http://core.lib.purdue.edu/;  Cornel University Library (2008), Beck, Susan E. (1997) dan bererapa diantaranya Boswel (1996) memberikan parameter untuk mengukur apakah sebuah dokumen di Web itu naik untuk disitir atau tidak dan dan tolok ukur itu antara lain seperti dibawah ini:

1.      Kepengarangan
Barang kali kepengarangan merupakan kriteria paling penting untuk mengevaluasi informasi. Karena terlalu banyak informasi yang tersaji, banyak pula informasi muncul dengan penulis anonim. Untuk terbitan tercetak  secara jelas menunjukkan si penulis, organisasi afiliasinya seperti lembaga atau universitas, dan waktu penerbitannya. Sementara, sumber dari internet kepengarangan dan afiliasi sulit ditentukan. Memang beberapa situs web kemungkinan mempunyai sponsor yang dicantumkan, tetapi banyak juga yang tidak.
Sahih berarti benar dan tepat dan kesahihan merupakan unsur penting dalam menilai informasi. Menilai unsur ini lebih sulit dibanding menilai kepengarangan, jika kita tidak mempunyai pemahaman cukup terhadap topik, dan sulit mengatakan bahwa informasi tersebut sahih. Namun kita  bisa melihat bebarapa hal seperti informasi bebas salah ketik, kemudian bagaimana penggunaan sitiran dalam naskah yang kita dapatkan. Penulis menjelaskan metoda-metoda yang digunakan, dan mencantumkan sumber referensi yang digunakan. Kita juga bisa melihat penafsiran dan implikasi yang disajikan  cukup rasional. Kita pastikan jika dalam naskah itu disajikan bukti-bukti yang mendukung kesimpulan dan dapat dilihat kembali. Kesahihan dapat juga dinilai dengan membandingkan informasi dengan sumber-sumber lain, apakah selaras ataukah bertentangan.
2.      Objektivitas
Objektivitas berarti semua unsur persoalan digambarkan secara adil, tanpa adanya propaganda atau kelalaian yang menyesatkan, meskipun hal yang satu ini tidak mudah diditeksi, jika kita tidak menguasai topik. Untuk melihat objektivitas sebuah dokumen kita perlu melihat tujuan penulisan, atau keinginan penulis untuk tujuan-tujuan subjektif atau untuk mempropagandakan produk atau pelayanan tertentu.  Bisa saja informasi itu membujuk kita tentang kebenaran pendapat tentang suatu masalah yang kontroversial. Organisasi yang menerbitkannya juga berpotensi bias (berat sebelah), jika organisasi tersebut mempunyai kepentingan komersial, ideologis, atau politik.
Kepentingan tersebut, dapat berdampak pada penyajian  dokumen, misalnya hanya menampilkan bukti-bukti yang mendukung pernyataannya saja.  Dalam sebuah artikel pembahasan yang berat sebelah itu bisa saja dituliskan secara tersirat dan ini perlu kita cermati. Bisa saja tulisan itu berupa fakta, opini, lelucon atau tulisan bernada sinis, dan hal-hal ini dapat mempengaruhi objektivitas sebuah informasi.
3.      Kemutakhiran
Sebuah artikel dapat dianggap mutakhir jika informasi yang dikandungnya terkini dan masih sahih. Jika tulisan itu berupa teori, belum ada teori baru yang menggugurkannya. Aspek waktu penerbitan sebuah dokumen penting untuk bidang-bidang yang berkembang cepat, contohnya sains dan kedokteran. Oleh karena itu seorang peneliti kesehatan perlu mengikuti informasi terbaru dalam bidangnya. Mungkin dalam beberapa bulan terdapat perkembangan obat dan perlakuan yang muncul.. Dalam mengukur kemutakhiran kita juga bisa melihat tanggal terakhir sebuah situs Web itu diperbarui dan taut yang disajikannya masih berfungsi. Perlu juga memastikan bahwa dokumen yang kita dapatkan adalah edisi terakhir. Sehingga dalam kita perlu menyimak lebih dalam waktu dokumen itu dibuat, dipasang di web, waktu mendapatkan hak cipta. Untuk melihatnya, biasana penerbit menenpatkan pada footer.
4.      Ruang lingkup
Ruang lingkup berarti kelengkapan informasi yang disajikan, dan sulit untuk menentukan tanpa memahami topik secara seseluruhan. Mungkin  ruang lingkup dokumen tersebut relevan, akan tetapi ditujukan untuk umum, atau untuk anak. Ruang lingkup topik sangat dipengaruhi oleh pembaca sasaran. Sebagai contoh, informasi  untuk profesional kesehatan akan menyajikan ruang lingkup yang lebih luas dibanding informasi untuk pengguna jasa kesehatan. Ruang lingkup termasuk kedalaman (tingkat rincian) dan keluasan (kelengkapan) informasi yang disajikan. Untuk menilai ruang lingkup hendaknya kita mencari adanya kesenjangan atau kelalian yang jelas dalam ruang lingkup topik, apakah ada pertanyaan yang belum terjawab dalam informasi itu. Ada baiknya jika kita membandingkan informasi yang disajikan itu dengan publikasi tercetak dengan topik yang sama, sehingga kita mengetahui jika mempunyai kedalaman dan keluasan yang sama. Perihal penting yang perlu dipertmbangkan adalah kelengkapan dan keunikan informasi yang disajikan.
            Dalam suasana ledakan publikasi atau ledakan makalah elektronik yang tidak jumlah, sekaligus  tidak lagi mempertimbangkan pemanfaatannya bagi informee. Dalam keadaan seperti ini, para pustakawan akan menghadapi kesulitan untuk menyusun kemas ulang informasi atas permintaan pemustaka mereka. Oleh karena itu ketrampilan untuk menemukan informasi paling relevan dan mengavaluasi sangat dibutuhkan. Pustakawan perlu menyaring informasi yang akan bermanfaat pengguna. Jika pengguna adalah para  manager yang tidak mempunyai banyak waktu untuk mengumpulkan informasi, menganalisis, dan menafsirkan informasi yang mereka perlukan untuk menjalankan roda perusahaan. Oleh karena itu banyak perusahaan mempekerjakan pustakawan yang mampu informasi yang dimanfaatkan untuk menjawab pesoalan-persoalan perusahaan tempat mereka bekerja.
            Lain halnya jika pengguna yang dilayani pustakawan adalah para peneliti atau akademisi tentunya bentuk produk kemas ulang informasi tentu akan berbeda, dengan para manager. Di samping itu, karena masing-masing kelompok pemustaka mempunyai kebutuhan dan tingkat kedalaman informasi. Untuk itu  kita perlu menentukan sumber informasi yang bisa kita berikan pada mereka, termasuk lokasi informasi.

C.    Hal-hal yang perlu diprerhatikan untuk mengevaluasi sumber tercetak

1.      Penulis adalah orang yang bertanggung jawab terhadap buku dan namanya muncul pada halaman judul.
2.      Judul-judul sering kali sangat deskriptif dan memberitahu kita sedikit tentang buku.
3.      Volume dalam sejumlah buku, masing-masing mempunyai nomor volume atau huruf.
4.      Edisi .
5.      Serial-serial adalah sejumlah karya terpisah yang terkait satu sama lain dan diterbitkan berurutan.  
6.      Tempat terbit selalu muncul pada halaman judul, tapi kadang-kadang dibalik halaman judul.
7.      Nama penerbit selalu terdapat di halaman judul.
8.      Waktu terbit terdapat pada halaman judul, atau dibalik halaman judul.
9.      Kata pengatar disini penulis menyatakan tujuan penulisan buku dan ucapan terima kasih kepada mereka yang membantu dalam penulisan.
10.  Pendahuluan adalah bagian yang terpenting dari buku karena kita butuhkan untuk memahami buku itu.
11.  Daftar isi, pada bagian ini memberikan daftar bab atau bagia buku.
12.  Naskah ini merupakan batang tubuh buku.
13.  Appendix atau lampiran
14.  Glosari adalah daftar istilah teknis dan tidak umum dengan defenisi atau penjelasan, serta selalu berada di belakang buku.
15.  Indeks adalah merupakan daftar topik, nama, tempat, dll yang disusun menurut abjad, dengan merujuk pada halaman atau nomor dimana mereka berada. 



D.    Hal-hal yang perlu diprerhatikan untuk mengevaluasi sumber dari internet

1.      Apakah yang tersirat dari URL? Apakah tertulis .edu, .org, atau .gov,ataukah situs pribadi yang ditandai dengan (~).
2.      Scan perimeter halaman, mencari taut ke tentang, latar belakang dll.
3.      Cari lah up-date terakhir.
4.      Carilah indikator kualitas, yaitu informasi yang bertanggung jawab atas isi dari halaman dan merupakan sumber didokumentasikan.
5.      Apakah taut yang dipilih dengan baik dan terorganisir.
6.      Lihat apa yang orang lan katakana! Lihatlah halaman dalam direktori terkemuka yang mengevaluasi isinya.

Kandungan informasinya haruslah unuk dan tidak dipunyai oleh situs lain, atau lebih lengkap. Dengan kata lain harus memerikan informasiyang signifikan pada subjek. Dalam hal ini pustakawan haruslah memahami ruang lingkup dan keterbatasan sumber itu sebelum menautnya. Beberapa situs mempunyai tujuan tertentu, tidak sekedar memberikan informasi, bisa saja untuk memasarkan produk atau ideology si empunya situs. Tentu saja taut ke situs semacam ini tidak banyak bermanfaat bagi perpustakaan. Situs yang dipilih harus ditulis secara jelas dengan bahasa nonteknis dan tidak rancu. Grafik, suara dan video perlu diperbaharui, namun jangan terlalu banyak karena kemungkinan akan memperlambat respon. Informasinya harus objektif, kepengarangan harus dilihat untuk memastikan siapa yang membuat situs itu dan apakah pengarang dapat dipercaya. Ini merupakan indikasi bahwa situs web itu dapat dipercaya.

E.     Kriteria dalam melakukan evaluasi
Secara umum, kriteria dalam melakukan evaluasi dibagi ke dalam 3 bagian utama. Informasi lengkap akan tertulis di masing-masing jenis evaluasi. Pada sumber tercetak dan non tercetak memiliki beberapa kesamaan dalam hal mengevaluasi satu karya.

1.      Kepengarangan (Authorship), mengecek kredibilitas dari dari pengarang atau organisasi dari karya yang akan dibaca.
2.      Kesesuaian (Relevance), kesesuaian dibutuhkan untuk mengetahui tingkat relevansi dengan topik yang akan ditulis. Meskipun informasi memiliki kualitas sangat baik tetapi tidak relevan dengan rencana tulisan yang akan dibuat tetap tidak dikategorikan relevan.

3.      Kekinian (Currency), kekinian sangat dibutuhkan untuk lebih mengetahui perkembangan satu ilmu. Ini penting karena dengan melihat kekinian maka satu ilmu akan diketahui seberapa jauh tingkat perkembangannnya.

F.     Hambatan dalam mengevaluasi sumber informasi

1.      Keterbatasan dari segi fisik
2.      Kurangnya pengetahauan tentang bagaiman mengevaluasi sumber informasi
3.      Kurangnya tenaga pustakawan yang memiliki kemampuan mengevaluasi sumber  
4.      Kurangnya fasilitas untuk mengevaluasi sumber
5.      Banjirnya informasi yang tidak relevan dengan kebutuhan
6.      Kuragnya strategi penelusuran informasi
7.      Kurangnya  pengetahuan tentang pembuatan kata kunci


        










BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam dunia akademis, jenis informasi primer bergantung pada disiplin keilmuan yang diimani seseorang. Misalnya sebuah artikel di majalah yang melaporkan pengurangan konsumsi energi dengan menggunakan lampu neon compact, dapat digolongkan pada sumber sekunder, sedangkan artikel riset tentang neon jenis ini adalah sumber primer. Namun jika kita mengkaji bagaimana lampu neon disajikan di media populer, artikel itu dianggap sebagai sumber primer. Sumber tersier berisi informasi hasil pemampatan dan pengumpulan sumber primer dan sekonder. Misalnya Almanak, bibliografi, direktori, buku panduan, indeks abstrak, buku ajar, dsb. Sumber-sumber tersebut di atas perlu kita lihat untuk merumuskan sebuah pertanyaan riset dalam karya tulis ilmiah.
Research Education di Universitas Purdue (http://core.lib.purdue.edu/;  Cornel University Library (2008), Beck, Susan E. (1997) dan bererapa diantaranya Boswel (1996) memberikan parameter untuk mengukur apakah sebuah dokumen di Web itu naik untuk disitir atau tidak dan dan tolok ukur itu antara lain seperti dibawah ini:
1.      Kepengarangan.
2.      Objektifitas.
3.      Kemutahiran.
4.      Ruang lingkup.
Kriteria dalam melakukan eveluasi yaitu : kepengarangan, kesesuaian, dan kekinian. Dan hambatan dalam meng evaluasi sumber adalah keterbatasan dari segi fisik, kurangnya pengetahuan tentang mengevaluasi sumber informasi, kurangnya pustakawan yang berkualitas dll.






DAFTAR PUSTAKA

Widyawan, rosa. 2012. Pelayanan referensi berawal dari senyuman, Sumedang: Bahtera ilmu
Cangara, hafied. 2013. Perencanaan & strategi komunikasi, Jakarta : Rajawali pers.  
Sulistyo-Basuki. 1992. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yusuf, Pawit M. 1988. Pedoman mencari sumber informasi. Bandung: Remadja Karya


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar