MAKALAH
KOMUNIKASI DAN
SUMBER INFORMASI
“
Evaluasi
sumber informasi tercetak dan elektronik ”
Dosen Pengampu :
M. Rizal Pahlefi, S.IP., M.IP.
Kelas :
IPT 3C
Disusun oleh kelompok 9 :
Nuraini
M. Zainuddin
Rozalia
PROGRAM
STUDI ILMU PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI
TAHUN
2014/2015
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur penulis
panjatkan kepada allah SWT. Yang telah memberikan penulis nikmat sehat,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Dan penulis ucapkan terima kasih kepada dosen pengampuh mata kuliah Komunikasi
dan sumber informasi yaitu M. Rizal Pahlefi,S.IP.,M.IP. yang telah memberikan
saya kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini penulis
buat untuk memenuhi tugas mata kuliah, sekaligus menjadi bahan untuk diskusi
kelompok, penulis berharap semoga makalah ini dapat membantu dalam peroses
perkuliahan.
Penulis sadar dalam
pembuatan makalah ini bnyak terdapat kekurangan di sana sini. dari itu penulis
mohon kritik dan saranya dari teman-teman dan dosen pengampuh mata kuliah
komunikasi dan sumber informasi, guna untuk perbaikan makalah penulis
selanjutnya.
Wassalamualikum wr.wb.
Jambi, Desember
2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang...................................................................................................... 1
B.
Rumusan masalah.................................................................................................. 1
C.
Tujuan................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Sumber informasi.................................................................................................. 3
B. Mengevaliasi sumber informasi............................................................................. 4
C. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi sumber
tercetak ................ 7
D. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk
mengevaluasi sumber dari internet.......... 8
E. Kriteria dalam melakukan evaluasi........................................................................ 8
F. Hambatan dalam mengevaluasi sumber................................................................. 9
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan................................................................................................................ 10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 11
BABI
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi pada saat ini membawa dampak bagi pesatnya
perkembangan informasi yang beredar di dunia. Hal ini didukung oleh pesatnya
perkembangan pemanfaatan internet sebagai media dimana saat ini berbagai
informasi dapat ditemukan di internet. Perkembangan pengguna internet sendiri
mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Perpustakaan sebagai
lembaga yang menjadi pusat informasi mau tidak mau harus dapat menghadapi
kenyataan ‘banjir’ informasi di era yang kita kenal sebagai era informasi ini.
Jutaan dan bahkan milyaran informasi yang ada harus mampu dikelola dan
dimanfaatkan dengan baik. Namun disisi
lain, pengguna juga harus pintar dalam memilah dan menemukan informasi yang
berada dalam belantara yang seolah tidak bertepi. Berbagai isu terkait
bagaimana menemukan informasi yang tepat menjadi isu penting pada masa sekarang
ini. Pengguna harus mempunyai strategi jitu untuk menemukan informasi yang
diinginkan dan sesuai dengan kebutuhan serta mampu dipertanggungjawabkan secara
kualitas. Hal ini disebabkan tidak semua informasi yang ada dapat diambil
sebagai informasi yang’berguna’ atau ‘valid’.
B. Rumusan masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan sumber informasi ?
2.
Bagaiman cara mengevaluasi sumber informasi ?
3.
Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi
sumber tercetak ?
4.
Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi
sumber dari internet ?
C. Tujuan
1. Mengetahui
apa yang dimaksud sumber informasi.
2. Mengetahui
cara mengevaluasi sumber informasi.
3. Mengetahui
hal-hal yang perlu di perhatikan dalam mengevaluasi sumber tercetak.
4. Mengetahui
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi sumber dari internet.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Sumber informasi
Dalam
dunia akademis, jenis informasi primer bergantung pada disiplin keilmuan yang
diimani seseorang. Misalnya sebuah artikel di majalah yang melaporkan
pengurangan konsumsi energi dengan menggunakan lampu neon compact, dapat
digolongkan pada sumber sekunder, sedangkan artikel riset tentang neon jenis
ini adalah sumber primer. Namun jika kita mengkaji bagaimana lampu neon
disajikan di media populer, artikel itu dianggap sebagai sumber primer.
Dengan
kata lain, sumber primer itu orisinil, tanpa disaring, ditafsir atau dievaluasi
terlebih dahulu. Sumber ini selalu muncul sebagai dokumen tercetak atau
elektronik, berisi pemikiran orisinal, laporan tentang penemuan, atau informasi
baru. Batasan ini bergantung pada disiplin ilmu atau konteksnya. Beberapa contoh
diantaranya, akte kelahiran, surat nikah, artefak seperti uang logam, spesimen
tanaman, fosil, lukisan, patung, surat, dll.
Sumber
sekunder lebih sulit diidentifikasi dibanding sumber primer. Sumber ini
menyediakan informasi yang diproses dengan bahan sumber primer. Dengan kata
lain sumber versi tangan kedua. Pada umumnya sumber ini berupa laporan tertulis
setelah adanya fakta dan manfaatnya, berupa tafsiran dari sumber primer,
misalnya sumber sekonder berupa buku akutansi yang memuat faktur yang diterima,
pernyatan bank tentang rinci cek yang dibayarkan. Sumber sekonder bukanlah
bukti, melainkan komentar dan diskusi tentang bukti. Ketika informasi statistik
dikumpulkan, seperti dalam survey, data survei adalah sumber primer dan
kesimpulan survey merupakan sumber sekonder.
Namun,
informasi yang telah didifinisikan sumber sekonder, orang lain menganggapnya
sebagai sumber tersier. Sekali lagi, bergantung konteks. Contohnya adalah
bibliografi (juga dianggap sebagai sumber tersier), karya biografi, komentar,
atau kritik. Kamus dan ensiklopedia juga dianggap tersier. Sumber tersier
berisi informasi hasil pemampatan dan pengumpulan sumber primer dan sekonder.
Misalnya Almanak, bibliografi, direktori, buku panduan, indeks abstrak, buku
ajar, dsb. Sumber-sumber tersebut di atas perlu kita lihat untuk merumuskan
sebuah pertanyaan riset dalam karya tulis ilmiah.
B. Mengevaluasi sumber informasi
Dalam
hal ini konten informasi pada umumnya berasal dari bahan yang diterbitkan, data
dari lembaga riset dan pelayanan statistik pemerintah, juga dari informasi
elektornik yang diperoleh dari pelayanan online, memainkan peran penting dalam
penyusunan kemas ulang informasi. Untuk mempersiapkannya dokumen-dokumen yang
relevan dengan topik dikumpulkan untuk dianalisis dan disintesakan, kemudian
dikemas dalam media penyampaian yang tepat. Tidak jarang kita mengunduh
informasi berbasis Web yang menyesatkan, meskipun telah membacanya. Karena begitu cepat dan banyaknya informasi
yang kita dapatkan, banyak informasi relevan terlewatkan begitu saja, sementara
temuan yang kita kita peroleh belum tentu dapat dipercaya. Tentunya para
anggota komunitas keilmuan itu memahami disiplin ilmu yang diimaninya, dan
tidak bergitu saja sumber informasi yang diperolehnya.
Mereka
mengevaluasi sumber informasi berbasis web untuk menditeksi informasi yang
menyesatkan. Karenanya, kita perlu mengembangkan ketrampilan mengevaluasi
informasi yang kita dapatkan ketika menelusur di perpustakaan, walaupun buku,
jurnal dan sumber lain yang telah dievaluasi oleh ilmuwan, penerbit, dan
pustakawan. Setiap sumber yang kita dapatkan telah dievaluasi sebelum kita
melihatnya. Menurut Fitzgerald (1999), mengevaluasi informasi adalah
menilai kualitas gagasan, dan erat kaitannya dengan pemikiran kritis yang
mengkaji literatur tentang pemikiran kritis memberikan kontribusi cukup penting
untuk pemahaman sifat evaluasi.
Banyak perpustakaan menyelenggarakan kursus
singkat literasi informasi yang mencakup evaluasi terhadap temuan penelusuran
bagi para mahasiswa kita bisa melihat di situs universitas seperti Online
Research Education di Universitas Purdue (http://core.lib.purdue.edu/; Cornel
University Library (2008), Beck, Susan E. (1997) dan bererapa diantaranya
Boswel (1996) memberikan parameter untuk mengukur apakah sebuah dokumen di Web
itu naik untuk disitir atau tidak dan dan tolok ukur itu antara lain seperti
dibawah ini:
1. Kepengarangan
Barang
kali kepengarangan merupakan kriteria paling penting untuk mengevaluasi
informasi. Karena terlalu banyak informasi yang tersaji, banyak pula informasi
muncul dengan penulis anonim. Untuk terbitan tercetak secara jelas
menunjukkan si penulis, organisasi afiliasinya seperti lembaga atau
universitas, dan waktu penerbitannya. Sementara, sumber dari internet
kepengarangan dan afiliasi sulit ditentukan. Memang beberapa situs web
kemungkinan mempunyai sponsor yang dicantumkan, tetapi banyak juga yang tidak.
Sahih
berarti benar dan tepat dan kesahihan merupakan unsur penting dalam menilai
informasi. Menilai unsur ini lebih sulit dibanding menilai kepengarangan, jika
kita tidak mempunyai pemahaman cukup terhadap topik, dan sulit mengatakan bahwa
informasi tersebut sahih. Namun kita bisa melihat bebarapa hal seperti
informasi bebas salah ketik, kemudian bagaimana penggunaan sitiran dalam naskah
yang kita dapatkan. Penulis menjelaskan metoda-metoda yang digunakan, dan
mencantumkan sumber referensi yang digunakan. Kita juga bisa melihat penafsiran
dan implikasi yang disajikan cukup rasional. Kita pastikan jika dalam
naskah itu disajikan bukti-bukti yang mendukung kesimpulan dan dapat dilihat
kembali. Kesahihan dapat juga dinilai dengan membandingkan informasi dengan
sumber-sumber lain, apakah selaras ataukah bertentangan.
2. Objektivitas
Objektivitas
berarti semua unsur persoalan digambarkan secara adil, tanpa adanya propaganda
atau kelalaian yang menyesatkan, meskipun hal yang satu ini tidak mudah
diditeksi, jika kita tidak menguasai topik. Untuk melihat objektivitas sebuah
dokumen kita perlu melihat tujuan penulisan, atau keinginan penulis untuk
tujuan-tujuan subjektif atau untuk mempropagandakan produk atau pelayanan
tertentu. Bisa saja informasi itu membujuk kita tentang kebenaran
pendapat tentang suatu masalah yang kontroversial. Organisasi yang
menerbitkannya juga berpotensi bias (berat sebelah), jika organisasi
tersebut mempunyai kepentingan komersial, ideologis, atau politik.
Kepentingan
tersebut, dapat berdampak pada penyajian dokumen, misalnya hanya
menampilkan bukti-bukti yang mendukung pernyataannya saja. Dalam sebuah
artikel pembahasan yang berat sebelah itu bisa saja dituliskan secara tersirat
dan ini perlu kita cermati. Bisa saja tulisan itu berupa fakta, opini, lelucon
atau tulisan bernada sinis, dan hal-hal ini dapat mempengaruhi objektivitas
sebuah informasi.
3. Kemutakhiran
Sebuah
artikel dapat dianggap mutakhir jika informasi yang dikandungnya terkini dan
masih sahih. Jika tulisan itu berupa teori, belum ada teori baru yang
menggugurkannya. Aspek waktu penerbitan sebuah dokumen penting untuk
bidang-bidang yang berkembang cepat, contohnya sains dan kedokteran. Oleh
karena itu seorang peneliti kesehatan perlu mengikuti informasi terbaru dalam
bidangnya. Mungkin dalam beberapa bulan terdapat perkembangan obat dan
perlakuan yang muncul.. Dalam mengukur kemutakhiran kita juga bisa melihat
tanggal terakhir sebuah situs Web itu diperbarui dan taut yang disajikannya
masih berfungsi. Perlu juga memastikan bahwa dokumen yang kita dapatkan adalah
edisi terakhir. Sehingga dalam kita perlu menyimak lebih dalam waktu dokumen
itu dibuat, dipasang di web, waktu mendapatkan hak cipta. Untuk melihatnya,
biasana penerbit menenpatkan pada footer.
4. Ruang
lingkup
Ruang
lingkup berarti kelengkapan informasi yang disajikan, dan sulit untuk
menentukan tanpa memahami topik secara seseluruhan. Mungkin ruang lingkup
dokumen tersebut relevan, akan tetapi ditujukan untuk umum, atau untuk anak.
Ruang lingkup topik sangat dipengaruhi oleh pembaca sasaran. Sebagai contoh,
informasi untuk profesional kesehatan akan menyajikan ruang lingkup yang
lebih luas dibanding informasi untuk pengguna jasa kesehatan. Ruang lingkup
termasuk kedalaman (tingkat rincian) dan keluasan (kelengkapan) informasi yang
disajikan. Untuk menilai ruang lingkup hendaknya kita mencari adanya
kesenjangan atau kelalian yang jelas dalam ruang lingkup topik, apakah ada
pertanyaan yang belum terjawab dalam informasi itu. Ada baiknya jika kita
membandingkan informasi yang disajikan itu dengan publikasi tercetak dengan
topik yang sama, sehingga kita mengetahui jika mempunyai kedalaman dan keluasan
yang sama. Perihal penting yang perlu dipertmbangkan adalah kelengkapan dan
keunikan informasi yang disajikan.
Dalam suasana ledakan publikasi atau ledakan makalah elektronik yang tidak
jumlah, sekaligus tidak lagi mempertimbangkan pemanfaatannya bagi
informee. Dalam keadaan seperti ini, para pustakawan akan menghadapi kesulitan
untuk menyusun kemas ulang informasi atas permintaan pemustaka mereka. Oleh
karena itu ketrampilan untuk menemukan informasi paling relevan dan
mengavaluasi sangat dibutuhkan. Pustakawan perlu menyaring informasi yang akan
bermanfaat pengguna. Jika pengguna adalah para manager yang tidak
mempunyai banyak waktu untuk mengumpulkan informasi, menganalisis, dan menafsirkan
informasi yang mereka perlukan untuk menjalankan roda perusahaan. Oleh karena
itu banyak perusahaan mempekerjakan pustakawan yang mampu informasi yang
dimanfaatkan untuk menjawab pesoalan-persoalan perusahaan tempat mereka
bekerja.
Lain halnya jika pengguna yang dilayani pustakawan adalah para peneliti atau
akademisi tentunya bentuk produk kemas ulang informasi tentu akan berbeda,
dengan para manager. Di samping itu, karena masing-masing kelompok pemustaka
mempunyai kebutuhan dan tingkat kedalaman informasi. Untuk itu kita perlu
menentukan sumber informasi yang bisa kita berikan pada mereka, termasuk lokasi
informasi.
C.
Hal-hal yang perlu diprerhatikan untuk mengevaluasi sumber
tercetak
1. Penulis
adalah orang yang bertanggung jawab terhadap buku dan namanya muncul pada
halaman judul.
2. Judul-judul
sering kali sangat deskriptif dan memberitahu kita sedikit tentang buku.
3. Volume
dalam sejumlah buku, masing-masing mempunyai nomor volume atau huruf.
4. Edisi
.
5. Serial-serial
adalah sejumlah karya terpisah yang terkait satu sama lain dan diterbitkan
berurutan.
6. Tempat
terbit selalu muncul pada halaman judul, tapi kadang-kadang dibalik halaman
judul.
7. Nama
penerbit selalu terdapat di halaman judul.
8. Waktu
terbit terdapat pada halaman judul, atau dibalik halaman judul.
9. Kata
pengatar disini penulis menyatakan tujuan penulisan buku dan ucapan terima
kasih kepada mereka yang membantu dalam penulisan.
10. Pendahuluan
adalah bagian yang terpenting dari buku karena kita butuhkan untuk memahami
buku itu.
11. Daftar
isi, pada bagian ini memberikan daftar bab atau bagia buku.
12. Naskah
ini merupakan batang tubuh buku.
13. Appendix
atau lampiran
14. Glosari
adalah daftar istilah teknis dan tidak umum dengan defenisi atau penjelasan,
serta selalu berada di belakang buku.
15. Indeks
adalah merupakan daftar topik, nama, tempat, dll yang disusun menurut abjad,
dengan merujuk pada halaman atau nomor dimana mereka berada.
D.
Hal-hal yang perlu diprerhatikan untuk mengevaluasi sumber
dari internet
1.
Apakah yang tersirat dari URL?
Apakah tertulis .edu, .org, atau .gov,ataukah situs pribadi yang
ditandai dengan (~).
2.
Scan perimeter halaman, mencari taut
ke tentang, latar belakang dll.
3.
Cari lah up-date terakhir.
4.
Carilah indikator kualitas, yaitu
informasi yang bertanggung jawab atas isi dari halaman dan merupakan sumber
didokumentasikan.
5.
Apakah taut yang dipilih dengan baik
dan terorganisir.
6.
Lihat apa yang orang lan katakana!
Lihatlah halaman dalam direktori terkemuka yang mengevaluasi isinya.
Kandungan
informasinya haruslah unuk dan tidak dipunyai oleh situs lain, atau lebih
lengkap. Dengan kata lain harus memerikan informasiyang signifikan pada subjek.
Dalam hal ini pustakawan haruslah memahami ruang lingkup dan keterbatasan
sumber itu sebelum menautnya. Beberapa situs mempunyai tujuan tertentu, tidak
sekedar memberikan informasi, bisa saja untuk memasarkan produk atau ideology
si empunya situs. Tentu saja taut ke situs semacam ini tidak banyak bermanfaat
bagi perpustakaan. Situs yang dipilih harus ditulis secara jelas dengan bahasa
nonteknis dan tidak rancu. Grafik, suara dan video perlu diperbaharui, namun
jangan terlalu banyak karena kemungkinan akan memperlambat respon. Informasinya
harus objektif, kepengarangan harus dilihat untuk memastikan siapa yang membuat
situs itu dan apakah pengarang dapat dipercaya. Ini merupakan indikasi bahwa
situs web itu dapat dipercaya.
E.
Kriteria dalam melakukan evaluasi
Secara umum,
kriteria dalam melakukan evaluasi dibagi ke dalam 3 bagian utama. Informasi
lengkap akan tertulis di masing-masing jenis evaluasi. Pada sumber tercetak dan
non tercetak memiliki beberapa kesamaan dalam hal mengevaluasi satu karya.
1. Kepengarangan
(Authorship), mengecek kredibilitas dari dari pengarang atau organisasi dari
karya yang akan dibaca.
2. Kesesuaian
(Relevance), kesesuaian dibutuhkan untuk mengetahui tingkat relevansi dengan
topik yang akan ditulis. Meskipun informasi memiliki kualitas sangat baik
tetapi tidak relevan dengan rencana tulisan yang akan dibuat tetap tidak
dikategorikan relevan.
3. Kekinian
(Currency), kekinian sangat dibutuhkan untuk lebih mengetahui perkembangan satu
ilmu. Ini penting karena dengan melihat kekinian maka satu ilmu akan diketahui
seberapa jauh tingkat perkembangannnya.
F.
Hambatan
dalam mengevaluasi sumber informasi
1. Keterbatasan
dari segi fisik
2. Kurangnya
pengetahauan tentang bagaiman mengevaluasi sumber informasi
3. Kurangnya
tenaga pustakawan yang memiliki kemampuan mengevaluasi sumber
4. Kurangnya
fasilitas untuk mengevaluasi sumber
5. Banjirnya
informasi yang tidak relevan dengan kebutuhan
6. Kuragnya
strategi penelusuran informasi
7. Kurangnya pengetahuan tentang pembuatan kata kunci
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam
dunia akademis, jenis informasi primer bergantung pada disiplin keilmuan yang
diimani seseorang. Misalnya sebuah artikel di majalah yang melaporkan
pengurangan konsumsi energi dengan menggunakan lampu neon compact, dapat
digolongkan pada sumber sekunder, sedangkan artikel riset tentang neon jenis
ini adalah sumber primer. Namun jika kita mengkaji bagaimana lampu neon
disajikan di media populer, artikel itu dianggap sebagai sumber primer. Sumber
tersier berisi informasi hasil pemampatan dan pengumpulan sumber primer dan
sekonder. Misalnya Almanak, bibliografi, direktori, buku panduan, indeks
abstrak, buku ajar, dsb. Sumber-sumber tersebut di atas perlu kita lihat untuk
merumuskan sebuah pertanyaan riset dalam karya tulis ilmiah.
Research
Education di Universitas Purdue (http://core.lib.purdue.edu/; Cornel
University Library (2008), Beck, Susan E. (1997) dan bererapa diantaranya
Boswel (1996) memberikan parameter untuk mengukur apakah sebuah dokumen di Web
itu naik untuk disitir atau tidak dan dan tolok ukur itu antara lain seperti
dibawah ini:
1. Kepengarangan.
2. Objektifitas.
3. Kemutahiran.
4. Ruang
lingkup.
Kriteria
dalam melakukan eveluasi yaitu : kepengarangan, kesesuaian, dan kekinian. Dan
hambatan dalam meng evaluasi sumber adalah keterbatasan dari segi fisik,
kurangnya pengetahuan tentang mengevaluasi sumber informasi, kurangnya
pustakawan yang berkualitas dll.
DAFTAR
PUSTAKA
Widyawan,
rosa. 2012. Pelayanan referensi berawal dari senyuman, Sumedang: Bahtera ilmu
Cangara,
hafied. 2013. Perencanaan & strategi komunikasi, Jakarta : Rajawali pers.
Sulistyo-Basuki.
1992. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yusuf,
Pawit M. 1988. Pedoman mencari sumber informasi. Bandung : Remadja Karya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar